PROSES
BELAJAR
Alhamdullilah, Puji syukur kehadirat Allah
SWT atas limpahan rahmat dan anugrah dari-Nya saya dapat menyelesaikan makalah
tentang “Proses Belajar” ini. Sholawat dan salam semoga senantiasa
tercurahkan kepada junjungan besar kita, Nabi Muhammad SAW yang telah
menunjukkan kepada kita semua jalan yang lurus berupa ajaran agama islam yang
sempurna dan menjadi anugrah terbesar bagi seluruh alam semesta.
Penulis sangat bersyukur
karena dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Proses
Belajar” dengan
tepat waktu walaupun banyak halangan dan rintangan yang dilalui. Disamping itu,
kami mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu saya
selama pembuatan makalan ini berlangsung sehingga dapat terealisasikanlah
makalah ini.
Makalah ini tentu tidak terlepas dari
kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, penulis dengan senang hati menerima
saran dan kritik konstruktif dari pembaca guna penyempurnaan penulisan makalah
ini. Akhirnya, semoga makalah ini menambah khasanah keilmuan dan bermanfaat
bagi mahasiswa. Amin yaa robbal ‘alamin.
Pekalongan, 17 September 2018
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................. i
DAFTAR ISI.............................................................................................. ii
BABI PENDAHULUAN..................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah........................................................ 1
B. Rumusan Masalah.................................................................. 2
C. Metode Pemecahan Masalah................................................. 2
D. Sistematika
Penulisan Makalah............................................. 3
BAB II PEMBAHASAN........................................................................ 4
A. Pengertian Belajar.................................................................. 4
B. Contoh Belajar....................................................................... 5
C. Ciri Khas Perilaku Belajar..................................................... 7
D. Proses Belajar........................................................................ 8
E. Fase Belajar........................................................................... 10
F. Jenis-Jenis
Belajar.................................................................. 11
G. Faktor yang
Mempengaruhi Belajar...................................... 15
BABIII PENUTUP................................................................................. 20
A. Kesimpulan............................................................................ 20
DAFTAR PUSTAKA............................................................................... 21
A. Latar Belakang Masalah
Belajar
adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental
dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti berhasil
atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses
belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di sekolah maupun di
lingkungan rumah atau keluarganya sendiri.
Belajar
adalah syarat mutlak untuk membuat orang pandai dalam semua hal, baik dalam hal
ilmu pengetahuan maupun dalam hal bidang keterampilan atau kecakapan Seorang
bayi misalnya, dia harus belajar berbagai kecakapan terutama sekali kecakapan
motorik seperti belajar menelungkup, duduk, merangkak, berdiri atau berjalan.
Dalam
kehidupan sehari-hari, kita melakukan banyak kegiatan yang sebenarnya merupakan
“gejala belajar” dalam arti mustahillah melakukan kegiatan itu kalau kita tidak
belajar terlebih dahulu. Misalnya, kita mengenakan pakaian, menggunakan
alat-alat makan, berkomunikasi satu sama lain dalam bahasa nasional, kita
bertindak sopan, kita menghormati atasan, kita mengemudikan kendaraan bermotor,
dan lain sebagainya. Gejala-gejala belajar semacam itu terlalu banyak untuk
disebutkan satu-persatu, karena jumlahnya ribuan, namun mengisi kehidupan
sehari-hari.
Belajar
merupakan kegiatan manusia untuk merubah dirinya dari ketidak tahuan menjadi
tahu, dari ke samaran menjadi jelas, dan tentunya dalam proses pelaksanaan
belajar tidak akan terlepas dari pengaruh-pengaruh yang datang sebagai stimulus
yang dapat merangsang cepat atau lambatnya bahkan berhasil atau tidaknya sebuah
proses belajar.
Apa
yang menjadikan semua kegiatan itu suatu gejala belajar? Kemampuan untuk
melakukan itu semua diperoleh, mengingat mula-mula kemampuan itu belum ada.
Maka, terjadilah proses perubahan dari belum mampu ke arah sudah mampu, dan
proses perubahan itu terjadi selama jangka waktu tertentu. Adanya perubahan
dalam pola perilaku inilah yang menandakan telah terjadinya proses belajar.
Oleh
karena itu, pemahaman yang benar mengenai arti belajar dengan segala aspek,
bentuk dan manifestasinya mutlak diperlukan oleh para pendidik khususnya pada
guru. Kekeliruan atau ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar
dan hal-hal yang Berkaitan dengannya akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil
pembelajaran yang dicapai peserta didik.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang tersebut perlu kiranya merumuskan masalah sebagai pijakan untuk
terfokusnya kajian makalah ini. Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut :
2. Bagaimana proses belajar?
3. Bagaimana fase belajar?
4.Apa jenis-jenis belajar ?
5.
Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi
belajar?
C. Metode Pemecahan Masalah
Metode
pemecahan masalah yang dilakukan melalui studi literatur/metode kajian pustaka,
yaitu dengan menggunakan beberapa referensi buku atau dari referensi lainnya
yang merujuk pada permasalahan yang dibahas. Langkah-langkah pemecahan
masalahnya dimulai dengan menentukan
masalah yang akan dibahas dengan melakukan perumusan masalah, melakukan
langkah-langkah pengkajian masalah, penentuan tujuan dan sasaran, perumusan
jawaban permasalahan dari berbagai sumber, dan penyintesisan serta
pengorganisasian jawaban permasalahan.
D. Sistematika Penulisan Makalah
Makalah
ini ditulis dalam tiga bagian, meliputi: Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri
dari: latar belakang masalah, perumusan masalah, metode pemecahan masalah, dan
sistematika pnulisan makalah; Bab II, adalah pembahasan; Bab III, bagian
penutup yang terdiri dari simpulan dan saran-saran.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),
belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau
ilmu. Belajar dalam pengertian lainadalahsuatu
aktivitas yang disadari dan dengan kemauan yang cukup besar dan kuat serta
mengharapkan hasil belajar yang baik (optimum), maka memerlukan situasi dan
kondisi yang cukup baik juga.[1]Atau dapat juga diartikan bahwa belajar adalah kegiatan yang berproses
dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis
dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian
tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami
siswa,baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau
keluarganya sendiri.
Selain pengertian belajar diatas para ahli juga
turut menjelaskan mengenai pengertian belajar ini.
a.
Hilgard
dan Bower, dalam buku Theories of Learning mengemukakan. ”Belajar berhubungan
dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang
disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, di mana
perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan
respon pembawaan, ks. matangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya
kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya).”
b.
Gagne,
dalam buku The Conditions of Learning menyatakan bahwa: ”Belajar terjadi
apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa
sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performance-nya) berubah dan Waktu
sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi.”
c.
Morgan,
dalam buku Introduction to Psychology mengemukakan: ”Belaiar adalah setiap
perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu
hasil dari latihan atau pengalaman.”
d. Witherington, dalam buku Educational
Psychology.Mengemukakan ”Belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian
yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru daripada reaksi yang berupa
kecakapan, sikap, kebiasaan, kapan-daian, atau suatu pengertian.”[2]
Dari sini
dapat diambil kesimpulan bahwa : Belajar itu membawa perubahan baik aktual
maupun potensial, Perubahan itu didapatkan dari kecakapan baru, Perubahan itu
terjadi karena usaha (dengan sengaja).
B.
Contoh Belajar
Seorang anak balita
memeroleh mobil-mobilan dari ayahnya. Lalu ia mencoba mainan ini dengan cara
memutar kuncinya dan meletakkannya pada suatu permukaan atau dataran. Perilaku
“memutar" dan “meletakkan" tersebut merupakan respons atau reaksi
atas rangsangan yang timbul/ ada pada mainan itu (misalnya, kunci dan roda
mobil-mobilan tersebut).
Pada tahap permulaan,
respons anak terhadap stimulus yang ada Pada mainan tadi biasanya tidak tepat
atau setidak-tidaknya tidak teratur. Namun, berkat praktik dan pengalaman
berulang-ulang, lambat laun ia menguasai dan akhirnya dapat memainkan
mobil-mobilan dengan baik dan sempurna. Sehubungan dengan contoh ini, belajar
dapat kita pahami sebagai proses yang dengan proses itu sebuah tingkah laku
ditimbulkan atau diperbaiki melalui serentetan reaksi atas situasi atau
rangsangan yang ada.
Contoh lainnya,
bayangkanlah bahwa Anda sedang berada dalam sebuah ruangan yang pintu dan
jendelanya terkunci rapat. Anda sangat lapar, tetapi tidak tahu cara mengatasi
kelaparan itu. Apakah yang dapat Anda lakukan? Mungkin Anda akan berteriak
meminta pertolongan, tetapi Anda tidak melakukannya. Daripada berteriak-teriak
Anda merasa lebih baik mengelilingi ruangan itu, mengamat-amati seluruh
bagiannya, bahkan meraba-raba sambil mencari sesuatu berkali-kali.
Akhirnya Anda menemukan
sebuah tombol kecil dekat sebuah lubang tipis yang lebarnya kira-kira 10 cm.
Anda menekan tombol itu, lalu terdengar bunyi “tit-tit-tit” diiringi suara
laksana jatuhnya sebuah benda ringan. Namun Anda tidak melihat apa-apa.
Menghadapi situasi seperti ini mungkin Anda akan mundur untuk menghindari
sesuatu yang mencelakakan. Tapi ketika suara aneh tadi berhenti, tiba-tiba
sebuah benda tipis dan bulat muncul dari lubang. Kue mari! Kemudian kue ini
Anda makan. Selanjutnya, karena Anda masih merasa lapar, tombol itu Anda tekan
lagi berkali-kali untuk menghasilkan kue mari sebanyak banyaknya, hingga Anda
akhirnya merasa kenyang.
Dalam situasi seperti
tersebut di atas, tombol dan lubang tadi merupakan stimulus, sedangkan rasa
lapar yang Anda alami adalah motivasi. Kedua unsur ini lalu menimbulkan respons
khusus (penekanan tombol) yang akan terus meningkat dan lebih teratur, karena
adanya penguat (reinforcer) yakni kue mari. Peristiwa seperti ini dalam
psikologi belajar dikenal dengan istilah instrumental
conditioning atau operant conditioning.Menurut
Houston, respons-respons terhadap stimuli itulah yang disebut instrumental (penolong) yang berguna
untuk memeroleh sesuatu atau perubahan yang diharapkan.
Namun perlu dipertanyakan,
apakah belajar itu benar-benar hanya ditandai oleh adanya interaksi antara
stimulus dengan respons?Bagaimapun, peristiwa belajar yang dialami manusia itu
bukan semata mata masalah respons terhadap rangsangan yang ada, melainkan (yang
terpenting) karena adanya self-direction,
pengaturan dan pengarahan diri yang dikontrol oleh otak. Fungsi otak sebagai
pengendali seluruh aktivitas mental dan behavioral, menurut tinjauan cognitivists (para ahli kognitif) sangat
menentukan proses belajar manusia.
Ambilah sebuah contoh,
seorang anak balita sedang mempelajari kata "kucing" dari
ibunya.Ketika anak itu melihat kucing jantan, kecil, dan berbulu hitam di
rumahnya, ibunya berkata, “Itu kucing,” lalu anak itu menirukan, “Itu kucing.”
Citra kucing yang ia lihat menjadi echoic
memory yang semuanya terserap oleh sensory
register dan tersimpan dalam gudang sementara ini selama kurang dari satu
detik. Kemudian, informasi dalam bentuk citra dan gema tersebut (iconic dan
echoic) diserap oleh short termmemory
(subsistem akal jangka pendek) untuk diproses menjadi arti-arti selama kurang
dari satu detik, lalu diserap oleh subsistem memori/akal permanen. Dalam
subsistem akal permanen anak balita tadi, telah tersimpan juga item-item
informasi lain seperti kata "bagus”, kata “suka", dan item-item
lainnya yang pernah ia lihat atau dengar sebelumnya.
Kemudian, keesokan harinya
anak balita tadi melihat kucing lain di luar rumahnya, dan ibunya bertanya,
“Apa itu? Saat pertanyaan ini diterima, sistem akal anak tersebut kembali
berproses mencari jawaban, dan hasilnya di luar dugaan. Ternyata bukan hanya
kata “kucing” yang ia peroleh melainkan juga kata “bagus” dan kata "suka”
dalam tatanan kalimat yang logis. Ia menjawab, “Itu kucing bagus, Bu! Saya
suka." Padahal, struktur kalimat yang melibatkan tiga kata itu (kucing,
bagus, dan suka) tak pernah ia pelajari. Bahkan, kucing yang ia lihat di luar
rumahnya itu pun jenis kelamin dan warnanya berbeda dengan kucing yang ia lihat
di rumahnya kemarin.
Alhasil, belajar pada
hakikatnya merupakan proses kognitif yang mendapat dukungan dari fungsi ranah
psikomotor. Fungsi psikomotor dalam hal ini meliputi: mendengar, melihat,
mengucapkan. Apapun jenis dan manifestasi belajar yang dilakukan siswa Anda,
hampir dapat dipastikan selalu melibatkan fungsi ranah akalnya yang intensitas
penggunaannya tentu berbeda dengan peristiwa belajar lainnya.Tugas Anda dalam
hal ini memberi contoh penggunaan strategi kognitif yang tepat dalam arti
sesuai dengan kapasitas umum siswa-siswa Anda dan selaras dengan kebutuhan dan
tingkat kesulitan materi yang Anda ajarkan kepada mereka.[3]
C.
Ciri Khas Perilaku Belajar
Setiap perilaku belajar
selalu ditandai oleh ciri-ciri perubahan yang spesifik. Diantara ciri-ciri
perubahan khas yang menjadi karakteristik perilaku belajar yang terpenting
adalah :
1.
Peubahan itu intensional
Perubahan yang terjadi dalam proses belajar adalah
berkat pengalaman atau praktik yang dilakukan dengan sengaja dan disadari, atau
dengan kata lain bukan kebetulan. Siswa menyadari akan adanya perubahan yang
dialami atau merasakan adanya perubahan dalam dirinya seperti penambahan
pengetahuan, kebiasaan, sikap dan pandangan sesuatu, keterampilan dan
seterusnya. Menurut Anderson kesengajaan belajar itu tidak penting, yang
penting cara mengelola informasi yang diterima siswa pada waktu pembelajaran
terjadi. Di samping itu, dari kenyatan sehari-hari juga menunjukkan bahwa tidak
semua kecakapan merupakan hasil kesengajaan belajar yang kita sadari.
2.
Perubahan itu positif dan aktif
Perubahan yang terjadi karena proses belajar
bersifat positif dan aktif. Positif artinya baik, bermanfaat, serta sesuai
dengan harapan. Adapun perubahan aktif artinya tidak terjadi dengan sendirinya
seperti karena proses kematangan, karena usaha siswa itu sendiri.
3.
Perubahan itu efektif dan fungsional
Perubahan yang timbul karena proses belajar bersifat
efektif, yakni berhasil guna. Artinya, perubahan tersebut membawa pengaruh,
makna dan manfaat tertentu bagi siswa. Selain itu, perubahan dalam belajar
bersifat fungsional dalam arti bahwa ia relatif menetap dan setiap saat apabila
dibutuhkan, perubahan tersebut dapat direproduksi dan dimanfaatkan. Perubahan
yang efektif dan fungsional biasanya bersifat dinamis dan mendorong timbulnya
perubahan-perubahan positif. Contoh, jika seorang siswa belajar menulis, disamping mampu merangkai kata ia juga akan
memperoleh kecakapan lain seperti membuat catatan.[4]
D.
Proses Belajar
Untuk mendapatkan hasil
yang maksimal dalam proses pembelajaran tentu mempunyai urutan langkah –
langkah demi memperlancar dan mempermudah proses belajar sesuai dengan
perkembangan anak . Langkah – langkah tersebut di antaranya adalah sebagai
berikut :
1.
Belajar
dan kematangan
Kematangan adalah suatu
proses pertumbuhan organ – organ yang mana telah mencapai kesanggupan untuk
menjalankan fungsinya masing – masing dan ini terjadi dari rangsangan dalam
diri manusia secara sendirinya .Sedangkan belajar membutuhkan kegiatan yang
kita sadari yang ini terjadi karena rangsangan dari luar.[5]
2.
Belajar
dan penyesuaian diri
Dalam hal ini terdapat dua
macam penyesuaian diri yaitu :
a.
Penyesuaian
diri autoplastis , seseorang mengubah dirinya disesuaikan dengan keadaan
lingkungan / dunia luar .
b.
Penyesuaian
diri alloplastis , mengubah lingkungan atau dunia luar disesuaikan dengan
kebutuhan dirinya.[6]
Dari dua jenis penyesuaian
ini sangat berhubungan erat dengan belajar karena belajar memerlukan proses
penyesuaian dan dalam penyesuaian juga dibutuhkan sebuah latihan – latihan yang
eratkaitannya dengan proses belajar .Jadi , sama artinya dengan adanya
simbiosis mutualisme antar keduanya .
3.
Belajar
dan pengalaman
Mengalami sesuatu belum
tentu merupakan belajar tapi tiap – tiap kegiatan dari belajar berarti juga mengalami . Contoh
kegiatan yang bukan belajar adalah mengalami sesuatu yang menyedihkan dapat menimbulkan
apatis dan kesedihan. Jadi, ketika kita belajar sesuatu itu merupakan
pengalaman yang sedang kita dapat dapatkan . Namun ketika kita mengalami
sesuatu belum tentu itu merupakan sebuah proses belajar . Di sini dapat diambil
kesimpulan bahwa dalam proses belajar tentu akan ada sebuah pengalaman . Yang
pengalaman – pengalaman itu apabila dimanfaatkan dengan baik akan memberikan
efek positif pada proses belajar .
4.
Belajar
dan bermain
Bermain dan belajar
memiliki kesamaan yaitu sama – sama merubah tingkah laku dari seseorang .
Antara keduanya terdapat pula perbedaan , menurut sifatnya yaitu jika bermain
hanya untuk kepuasan sesaat sedangkan belajar mempunyai tujuan untuk masa
depan.
5.
Belajar
dan pengertian
Dalam proses belajar saat
ini kebanyakan dari kita mengira bahwa jika kita mengerti tentang sesuatu pasti
kita akan berhasil dalam proses belajar padahal belum tentu seperti itu.
Contohnya saja yang terjadi
pada kucing ketika dia latihan menangkap mangsa, awalnya dia tidak tau hal apa
yang dia lakukan dan untuk tujuan apa . Dia hanya selalu melakukan hal itu
secara terus menerus . Dan dia akan mengerti ketika dia semakin tumbuh besar.
6.
Belajar
dan menghafal
Menghafal dan mengingat
ternyata bukan merupakan suatu proses menghafal hal ini dikarenakan dalam
menghafal dan mengingat saja tanpa kita mengerti apa maksud dan tujuan dari
menghafal tersebut maka kita akan mudah lupa dan tidak tau manfaat apa yang
akan kita dapat nantinya setelah kita hafal akan sesuatu tersebut . Karena dari
suatu proses belajar pula akan menimbulkan perubahan tingkah laku sehingga
apabila kegiatan menghafal dan mengingat itu tidak memberikan efek perubahan
maka tidak disebut sebagai kegiatan belajar.[7]
7.
Belajar
dan latihan
Persamaan dari dua hal ini
adalah sama – sama dapat merubah tingkah laku seseorang namun dalam hal belajar
belum tentu semuanya perlu latihan , misalnya anak yang menyentuh api akan
merasa panas dan sejak itu dia tau bahwa api itu panas hal ini tidak perlu
latihan untuk keberhasilan proses belajar hanya perlu pengertian saja. [8]
E.
Fase Belajar
Karena belajar itu merupakan aktivitas yang
berproses, sudah tentu didalamnya terjadi perubahan-perubahan yang
bertahap.Perubahan-perubahan tersebut timbul melalui fase-fase yang antara satu
dengan yang lainnya bertalian secara berurutan dan fungsional.
Menurut Jerome S.Bruner, salah seorang penentang teori S-R Bond (Barlow,
1985), dalam proses pembelajaran siswa menempuh tiga fase.
1.
Fase informasi (tahap penerimaan materi)
2.
Fase transformasi (tahap pengubahan materi)
3.
Fase evaluasi (tahap penilaian materi)
Dalam tahap informasi, seorang siswa yang sedang
belajar memperoleh sejumlah keterangan mengenai materi yang sedang dipelajari.
Di antara informasi yang diperoleh itu ada yang sama sekali baru dan berdiri
sendiri, ada pula yang berfungsi menambah, memperhalus, dan memperdalam
pengeahuan yang sebelumnya telah dimiliki. Dalam tahap transformasi, informasi
yang telah diperoleh itu dianalisis, diubah, atau ditransformasikan menjadi
bentuk yang abstrak atau konseptual supaya kelak pada gilirannya dapat
dimanfaatkan bagi hal-hal yang lebih luas. Bagi siswa pemula, tahap ini akan
berlangsung sulit apabila tidak disertai dengan bimbingan anda selaku guru yang
diharapkan kompeten dalam mentransfer strategi kognitif yang tepat untuk
melakukan pembelajaran tertentu. Dalam tahap evaluasi, seorang siswa menilai sendiri
sampai sejauh mana pengetahuan (informasi yang telah ditransfornasikan tadi) dapat
dimanfaatkan untuk memahami gejala-gejala atau memecahkan masalah yang
dihadapi.[9]
F.
Jenis-Jenis Belajar
Dalam proses belajar dikenal adanya bermacam-macam kegiatan yang
memiliki corak yang berbeda antara satu dengan lainnya, baik dalam aspek materi
dan metodenya maupun dalam aspek tujuan dan perubahan tingkah laku yang
diharapkan. Keanekaragaman jenis belajar ini muncul dalam dunia pendidikan
sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang juga bermacam-macam.
1.
Belajar
Abstrak
Belajar abstrak ialah
belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak.Tujuannya adalah untuk
memeroleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata.Dalam
mempelajari hal-hal yang abstrak diperlukan peranan akal yang kuat di samping
penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi.Termasuk dalam jenis ini
misalnya belajar matematika, astrOnomi, filsafat, dan materi bidang studi agama
seperti tauhid.[10]
2.
Belajar
Keterampilan
Belajar keterampilan adalah
belajar dengan menggunakan gerakan gerakan motorik yakni yang berhubungan
dengan urat-urat syaraf dan otot-otot/ neuromuscular.Tujuannya untuk memperoleh
dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu.Dalam belajar jenis ini pelatihan
intensif dan teratur amat diperlukan.Termasuk belajar dalam jenis ini misalnya
belajar olahraga, musik, menari, melukis, memperbaiki benda-benda elektronik,
dan juga sebagian materi pelajaran agama, seperti ibadah salat dan haji.
3.
Belajar
Sosial
Belajar sosial pada
dasarnya adalah belajar memahami masalah-masalah dan teknik-teknik untuk
memecahkan masalah tersebut. Tujuannya untuk menguasai pemahaman dan kecakapan
dalam memecahkan masalahmasalah sosial seperti masalah keluarga, masalah
persahabatan, masalah kelompok, dan masalah-masalah masalah -masalah lain yang
bersifat kemasyarakatan.
selain itu, belajar sosial
juga bertujuan untuk mengatur dorongan nafsu pribadi demi kepentingan bersama
dan memberi peluang kepada orang lain atau kelompok lain untuk memenuhi kebutuhannya
secara berimbang dan proposional.
Bidang-bidang studi yang termasuk bahan pelajaran sosial antara lain pelajaran
agama dan PPKn.
4.
Belajar
Pemecahan Masalah
Belajar pemecahan masalah
pada dasarnya adalah belajar menggunakan metode-metode ilmiah atau berpikir
secara sistematis, logis, teratur, dan teliti.Tujuannya ialah untuk memeroleh
kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional,
lugas, dan tuntas.Untuk itu, kemampuan siswa dalam menguasai konsep-konsep,
prinsipprinsip, dan generalisasi serta insight (tilikan akal) amat diperlukan.
Dalam hal ini, hampir semua
bidang studi dapat dijadikan sarana belajar pemecahan masalah. Untuk keperluan
ini, guru (khususnya yang mengajar eksakta, seperti matematika dan IPA) sangat dianjurkan
menggunakan model dan.strategi mengajar yang berorientasi pada cara pemecahan
masalah.
5.
Belajar
Rasional
Belajar rasional ialah
belajar dengan menggunakan kemampuan berpikir secara logis dan rasional (sesuai
dengan akal sehat).Tujuannya ialah untuk memeroleh aneka ragam kecakapan
menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep.Jenis belajar ini sangat erat
kaitannya dengan belajar pemecahan masalah.Dengan belajar rasional, siswa
diharapkan memiliki kemampuan rasional problem solving, yaitu kemampuan
memecahkan masalah dengan menggunakan pertimbangan dan strategi akal sehat,
logis, dan sistematis.
Bidang-bidang studi yang
dapat digunakan sebagai sarana belajar rasional sama dengan bidang-bidang studi
untuk belajar pemecahan masalah. Perbedaannya, belajar rasional tidak memberi
tekanan khusus pada penggunaan bidang studi eksakta. Artinya, bidang-bidang
studi noneksakta pun dapat memberi efek yang sama dengan bidang studi eksakta dalam belajar rasional.
6.
Belajar
Kebiasaan
Belajar kebiasaan adalah
proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan-kebiasaan
yang telah ada. Belajar kebiasaan, Selain menggunakan perintah, suri teladan
dan pengalaman khusus, juga menggunakan hukuman dan ganjaran. Tujuannya agar
siswa memeroleh Sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan perbuatan baru yang lebih
tepat
Dan positif dalam arti
selaras dengan kebutuhan manusia ruang dan waktu (kontekstual). Selain itu,
arti tepat dan positif diatas ialah selaras dengan norma dan tata nilai moral
yang berlaku, baik yang bersifat religius maupun tradisional dan kultural.
Belajar kebiasan akan lebih tepat dilaksanakan dalam konteks pendidikan
keluarga sebagaimana yang dimaksud oleh UUSPN 2003 Bab VI Pasal 27 (1) dan
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yakni TK dan RA (Raudhatul Athfal) sebagaimana
yang diisyaratkan dalam Bab VI Pasal 28 (1) Undang-undang tersebut. Namun
demikian, tentu tidak tertutup kemungkinan penggunaan Pelajaran agama sebagai
sarana belajar kebiasaan bagi para siswa.[11]
7.
Belajar
Apresiasi
Belajar apresiasi adalah
belajar mempertimbangkan (judgment) arti penting atau nilai suatu
objek.Tujuannya, agar siswa memeroleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa
(affective skills) yang dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap
nilai objek tertentu misalnya apresiasi sastra, apresiasi musik, dan
sebagainya.
Bidang-bidang studi yang
dapat menunjang tercapainya tujuan belajar apresiasi antara lain bahasa dan
sastra, kerajinan tangan (prakarya), kesenian, dan menggambar. Selain
bidang-bidang studi ini, bidang studi agama juga memungkinkan untuk digunakan
sebagai alat pengembangan apresiasi siswa, misalnya dalam hal seni baca tulis
Al-Qur'an.
8.
Belajar
Pengetahuan
Belajar pengetahuan (studi)
ialah belajar dengan cara melakukan : penyelidikan mendalam terhadap objek
pengetahuan tertentu. Studi ini juga dapat diartikan sebagai sebuah program
belajar terencana untuk menguasai materi pelajaran dengan melibatkan kegiatan
investigasi dan eksperimen (Reber, 1988).Tujuan belajar pengetahuan ialah agar
siswa memeroleh atau menambah informasi dan pemahaman terhadap pengetahuan
tertentu yang biasanya lebih rumit dan memerlukan kiat khusus dalam
mempelajarinya, misalnya dengan menggunakan alat-alat laboratorium dan
penelitian lapangan.
Contoh: kegiatan siswa
dalam bidang studi fisika mengenai "gerak" menurut hukum Newton I.
Dalam hal ini siswa melakukan eksperimen untuk membuktikan bahwa setiap benda
tetap diam atau bergerak secara beraturan, kecuali kalau ada gaya luar yang
memengaruhinya. Contoh lainnya, kegiatan siswa dalam bidang studi biologi
mengenai protoplasma yakni zat hidup yang ada pada tumbuhan dan hewan. Dalam
hal ini siawa melakukan investigasi terhadap senyawa organik yang terdapat
dalam protoplasma yang meliputi: karbohidrat, lemak, protein, dan asam nukleat.
[12]
G.
Faktor Yang
Mempengaruhi Belajar
Kemampuan belajar peserta didik sangat menentukan keberhasilannya
dalam proses belajar. Di dalam proses belajar tersebut, banyak faktor yang
mempengaruhinya. Secara global, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa
dapat dibedakan menjadi tiga macam, yakni:
1.
Faktor
internal (faktor dari dalam siswa),
Faktor internal yakni
keadaan/ kondisi jasmani dan rohani siswa.Faktor internal sendiri meliputi dua
aspek, yakni:
a.
Aspek
Fisiologis
Kondisi umum jasmani dan
tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan
sendi-sendinya, dapat memengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti
pelajaran.
b.
Aspek
Psikologis
Banyak faktor yang termasuk
aspek psikologis yang dapat memengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan
belajar siswa. Namun diantara faktor-faktor rohaniah siswa yang pada umumnya
dipandang lebih esensial itu adalah sebagai berikut:
1)
Tingat
kecerdasan/ intelegensi siswa
Intelegensi menurut Reber
dapat diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau
menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat. Tingkat kecerdasan
atau intelegensi (IQ) siswa tak dapat diragukan lagi, sangat menentukan tingkat
keberhasilan belajar siswa.[13]
2)
Motivasi
Motivasi menurut Sumardi
Suryabrata adalah keadaan yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorongnya
untuk melakukan aktivitastertentu guna pencapaian tertentu. Sementara itu Gates
dan kawan-kawan mengemukakan bahwa motivasi adalah suatu kondisi fisiologis dan
psikologis yang terdapat dalam diri seseorang yang mengatur tindakannya dengan
cara tertentu. Dari dua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi
adalah kondisi fisiologis dan psikologis yang terdapat dalam diri seseorang
yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan
(kebutuhan).[14]
Dalam perkembangan
selanjutnya, motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
a)
Motivasi
intrinsik, yaitu hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang
dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar.
b)
Motivasi
Ekstrinsik, yaitu hal dan keadaan yang datang dari luar individu siswa yang
juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Misalnya, pujian dan
hadiah, guru, dan suri tauladan orang tua. [15]
3)
Sikap
Throw mendefinisikan sikap
sebagai suatu kesiapan mental atau emosional dalam beberapa jenis tindakan pada
situasi yang tepat. Disini Throw lebih menekankan pada kesiapan mental atau
emosional seseorang terhadap sesuatu objek.[16]
Sikap (attitude)
siswa yang positif, terutama kepada guru dan mata pelajaran yang disampaikan
merupakan pertanda awal yang baik bagi proses belajar siswa tersebut.
Sebaliknya, sikap negatif siswa terhadap guru dan mata pelajaran yang
disampaikan, dan juga jika diiringi kebencian kepada guru atau kepada mata
pelajaran yang dipelajari dapat menimbulkan kesulitan belajar siswa tersebut.[17]
4)
Bakat
Secara umum, bakat (aptitude)
menurut Chaplin adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk
mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Dengan demikian, sebetulnya
setiap orang pasti memiliki bakat dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi
sampai ke tingkat tertentu sesuai kapasitas masing-masing.
Dalam perkembangan
selanjutnya, bakat kemudian diartikan sebagai kemampuan individu untuk
melakukan tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan
pelatihan. Misalnya, seorang siswa yang berbakat dalam bidang elektro, akan
jauh lebih mudah menyerap informasi, pengetahuan, dan ketrampilan yang
berhubungan dengan bidang tersebut dibanding dengan siswa lainnya.[18]
5)
Minat
Minat pada dasarnya adalah
penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri.
Crow and crow mengatakan bahwa minat
berhubungan dengan gaya gerak yang mendorong seseorang untuk menghadapi atau
berurusan dengan orang, benda, kegiatan, pengalaman yang dirangsang oleh
kegiatan itu sendiri. [19]
Umpamanya, seorang siswa
yang menaruh minat besar terhadap matematika akan memusatkan perhatiannya lebih
banyak daripada siswa lainnya. Itulah yang memungkinkan siswa tadi untuk
belajar lebih giat, dan akhirnya mencapai prestasi yang diinginkan.[20]
2.
Faktor
Eksternal Siswa
Seperti faktor internal
siswa, faktor eksternal siswa juga terdiri atas dua macam, yakni: faktor
lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial.
a.
Lingkungan
Sosial
Lingkungan sosial sekolah
seperti para guru, para tenaga kependidikan dan teman-teman sekelas dapat
memengaruhi semangat belajar siswa.Lingkungan sosial siswa adalah masyarakat
dan tetangga juga teman-teman di perkampungan siswa tersebut.
Lingkungan sosial yang
lebih banyak memengaruhi kegiatan belajar ialah orangtua dan keluarga siswa itu
sendiri.Sifat-sifat orangtua, praktik pengelolaan keluarga, ketegangan
keluarga, dan demografi keluarga (letak rumah), semuanya dapat memberi dampak
baik atau buruk tehadap kegiatan belajar dan hasil yang diapai oleh siswa.
Contoh: kebiasaan yang diterapkan orangtua siswa dalam mengelola keluarga yang
keliru, seperi kelalaian orangtua dalam memonitor kegiatan anak, dapat menimbulkan
dampak lebih buruk lagi.[21]
b.
Lingkungan
Nonsosial
Faktor-faktor yang termasuk
lingkungan nonsosial ialah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal
keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar
yang digunakan siswa.
Contoh: kondisi rumah yang
sempit dan berantakan serta perkampungan yang terlalu padat dan tidak memiliki
sarana umum untuk kegiatan remaja (seperti lapangan voli) akan mendorong siswa
untuk berkeliaran ke tempat tempat yang sebenarnya tidak pantas dikunjungi.
Kondisi rumah dan perkampungan seperti itu jelas berpengaruh buruk terhadap
kegiatan belajar siswa.[22]
3.
Faktor
Pendekatan Belajar
Pendekatan belajar menurut Lawson adalah keekfektifan
segala cara atau strategi yang digunakan siswa dalam menunjang efektivitas dan
efesien proses belajar materi tertentu. Strategi dalam hal ini berarti
seperangkat langkah operasional yang direkayasa sedemikian rupa untuk
memecahkan massalah atau mencapai tujuan belajar tertentu.
Di samping faktor-faktor internal dan eksternal siswa
sebagaimana yang telah dipaparkan di muka, faktor pendekatan belajar juga
berpengaruh terhadap taraf keberhasilan proses belajar siswa tersebut. [23]
BAB
III
PENUTUP
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada bagian pembahasan disimpulkan bahwa Proses
adalah kata yang berasal dari bahasa latin “processus” yang berarti “berjalan
ke depan”. Kata ini mempunyai konotasi urutan langkah atau kemajuan yang
mengarah pada suatu sasaran atau tujuan. Menurut Chaplin, proses adalah: Any change in any object or organism,
particulary a behavioral or psychological change (Proses adalah suatu
perubahan khususnya yang menyangkut perubahan tingkah laku atau perubahan
kejiwaan). Sedangkan belajar adalah perubahan yang relatif menetap yang terjadi
dalam segala macam/keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil
pengalaman.
Belajar
merupakan sebuah proses yang mampu merubah tingkah laku seseorang yang
memerlukan sebuah proses secara terus menerus . Dalam hal ini banyak sekali
faktor – faktor yang mempengaruhi proses belajar sehingga diperlukan banyak
latihan dan konsentrasi . Kita juga perlu mengetahui berbagai teori – teori
tentang belajar sehingga menambah wawasan kita bagaimana cara belajar yang
mampu membantu kita mendapatkan hasil yang maksimal. Yang sangat diharapkan
setelah kita belajar tidaklah hanya menguasai teorinya saja, tetapi bisa kita
aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari yang dapat membuat kehidupan kita lebih
baik.
DAFTAR PUSTAKA
Djaali.
(2013). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Fudyartanta, K. (2011). Psikologi Umum. Yogyakarta :
Pustaka Belajar.
Purwanto, N. (2014). Psikologi Pendidikan. Bandung :
PT Remaja Rosdakarya.
Suryabrata, S. (2004 ). Psikology Pendidikan. Jakarta
: Raja Grafindo Persada.
Syah, M. (2014). Psikologi Pendidikan. Bandung : PT
Remaja Rosdakarya.
[1]Ki
Fudyartanta, Psikologi Umum, (Yogyakarta
: Pustaka Belajar, 2011), Hlm.268
[2]Ngalim
Purwanto, Psikologi Pendidikan,
(Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2014), Hlm. 84
[3]Muhibbin
Syah, Psikologi Pendidikan, (Bandung
: PT Remaja Rosdakarya, 2014), Hlm. 91-92
[7]Loc.Cit
[10]Muhibbin
Syah, Op.Cit., Hlm.120
[16]Djaali, Op.Cit, Hlm.114
[17]Muhibbin Syah, Op.Cit,Hlm.132