Jumat, 16 November 2018

Psikologi Pendidikan : Proses Belajar



PROSES BELAJAR
                                                      

            Alhamdullilah, Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan anugrah dari-Nya saya dapat menyelesaikan makalah tentang “Proses Belajar” ini. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan besar kita, Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan kepada kita semua jalan yang lurus berupa ajaran agama islam yang sempurna dan menjadi anugrah terbesar bagi seluruh alam semesta.
Penulis sangat bersyukur karena dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Proses Belajar” dengan tepat waktu walaupun banyak halangan dan rintangan yang dilalui. Disamping itu, kami mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu saya selama pembuatan makalan ini berlangsung sehingga dapat terealisasikanlah makalah ini.
Makalah ini tentu tidak terlepas dari kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, penulis dengan senang hati menerima saran dan kritik konstruktif dari pembaca guna penyempurnaan penulisan makalah ini. Akhirnya, semoga makalah ini menambah khasanah keilmuan dan bermanfaat bagi mahasiswa. Amin yaa robbal ‘alamin.

                                                                          Pekalongan, 17 September 2018
Penulis








DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR..............................................................................      i
DAFTAR ISI..............................................................................................      ii

BABI       PENDAHULUAN.....................................................................      1
A.    Latar Belakang Masalah........................................................      1
B.     Rumusan Masalah..................................................................      2
C.     Metode Pemecahan Masalah.................................................      2
D.    Sistematika Penulisan Makalah.............................................      3

BAB II    PEMBAHASAN........................................................................      4
A.    Pengertian Belajar..................................................................      4
B.     Contoh Belajar.......................................................................      5
C.     Ciri Khas Perilaku Belajar.....................................................      7
D.    Proses Belajar........................................................................      8
E.     Fase Belajar...........................................................................      10
F.      Jenis-Jenis Belajar..................................................................      11
G.    Faktor yang Mempengaruhi Belajar......................................      15

BABIII    PENUTUP.................................................................................      20
A.    Kesimpulan............................................................................      20

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................      21





BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri.
Belajar adalah syarat mutlak untuk membuat orang pandai dalam semua hal, baik dalam hal ilmu pengetahuan maupun dalam hal bidang keterampilan atau kecakapan Seorang bayi misalnya, dia harus belajar berbagai kecakapan terutama sekali kecakapan motorik seperti belajar menelungkup, duduk, merangkak, berdiri atau berjalan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita melakukan banyak kegiatan yang sebenarnya merupakan “gejala belajar” dalam arti mustahillah melakukan kegiatan itu kalau kita tidak belajar terlebih dahulu. Misalnya, kita mengenakan pakaian, menggunakan alat-alat makan, berkomunikasi satu sama lain dalam bahasa nasional, kita bertindak sopan, kita menghormati atasan, kita mengemudikan kendaraan bermotor, dan lain sebagainya. Gejala-gejala belajar semacam itu terlalu banyak untuk disebutkan satu-persatu, karena jumlahnya ribuan, namun mengisi kehidupan sehari-hari.
Belajar merupakan kegiatan manusia untuk merubah dirinya dari ketidak tahuan menjadi tahu, dari ke samaran menjadi jelas, dan tentunya dalam proses pelaksanaan belajar tidak akan terlepas dari pengaruh-pengaruh yang datang sebagai stimulus yang dapat merangsang cepat atau lambatnya bahkan berhasil atau tidaknya sebuah proses belajar.
Apa yang menjadikan semua kegiatan itu suatu gejala belajar? Kemampuan untuk melakukan itu semua diperoleh, mengingat mula-mula kemampuan itu belum ada. Maka, terjadilah proses perubahan dari belum mampu ke arah sudah mampu, dan proses perubahan itu terjadi selama jangka waktu tertentu. Adanya perubahan dalam pola perilaku inilah yang menandakan telah terjadinya proses belajar.
Oleh karena itu, pemahaman yang benar mengenai arti belajar dengan segala aspek, bentuk dan manifestasinya mutlak diperlukan oleh para pendidik khususnya pada guru. Kekeliruan atau ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar dan hal-hal yang Berkaitan dengannya akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil pembelajaran yang dicapai peserta didik.

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut perlu kiranya merumuskan masalah sebagai pijakan untuk terfokusnya kajian makalah ini. Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut :
          1.Apa yang dimaksud dengan belajar?
          2. Bagaimana proses belajar?
    3. Bagaimana fase belajar?
         4.Apa jenis-jenis belajar ?
         5. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi belajar?

C.    Metode Pemecahan Masalah
Metode pemecahan masalah yang dilakukan melalui studi literatur/metode kajian pustaka, yaitu dengan menggunakan beberapa referensi buku atau dari referensi lainnya yang merujuk pada permasalahan yang dibahas. Langkah-langkah pemecahan masalahnya dimulai dengan menentukan masalah yang akan dibahas dengan melakukan perumusan masalah, melakukan langkah-langkah pengkajian masalah, penentuan tujuan dan sasaran, perumusan jawaban permasalahan dari berbagai sumber, dan penyintesisan serta pengorganisasian jawaban permasalahan.

D.    Sistematika Penulisan Makalah

Makalah ini ditulis dalam tiga bagian, meliputi: Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri dari: latar belakang masalah, perumusan masalah, metode pemecahan masalah, dan sistematika pnulisan makalah; Bab II, adalah pembahasan; Bab III, bagian penutup yang terdiri dari simpulan dan saran-saran.









BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Belajar
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Belajar dalam pengertian lainadalahsuatu aktivitas yang disadari dan dengan kemauan yang cukup besar dan kuat serta mengharapkan hasil belajar yang baik (optimum), maka memerlukan situasi dan kondisi yang cukup baik juga.[1]Atau dapat juga diartikan bahwa belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa,baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri.
Selain pengertian belajar diatas para ahli juga turut menjelaskan mengenai pengertian belajar ini.
a.       Hilgard dan Bower, dalam buku Theories of Learning mengemukakan. ”Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, di mana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan, ks. matangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya).”
b.      Gagne, dalam buku The Conditions of Learning menyatakan bahwa: ”Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performance-nya) berubah dan Waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi.”
c.       Morgan, dalam buku Introduction to Psychology mengemukakan: ”Belaiar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.”
d.   Witherington, dalam buku Educational Psychology.Mengemukakan ”Belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru daripada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kapan-daian, atau suatu pengertian.”[2]

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa : Belajar itu membawa perubahan baik aktual maupun potensial, Perubahan itu didapatkan dari kecakapan baru, Perubahan itu terjadi karena usaha (dengan sengaja).
B.     Contoh Belajar
Seorang anak balita memeroleh mobil-mobilan dari ayahnya. Lalu ia mencoba mainan ini dengan cara memutar kuncinya dan meletakkannya pada suatu permukaan atau dataran. Perilaku “memutar" dan “meletakkan" tersebut merupakan respons atau reaksi atas rangsangan yang timbul/ ada pada mainan itu (misalnya, kunci dan roda mobil-mobilan tersebut).
Pada tahap permulaan, respons anak terhadap stimulus yang ada Pada mainan tadi biasanya tidak tepat atau setidak-tidaknya tidak teratur. Namun, berkat praktik dan pengalaman berulang-ulang, lambat laun ia menguasai dan akhirnya dapat memainkan mobil-mobilan dengan baik dan sempurna. Sehubungan dengan contoh ini, belajar dapat kita pahami sebagai proses yang dengan proses itu sebuah tingkah laku ditimbulkan atau diperbaiki melalui serentetan reaksi atas situasi atau rangsangan yang ada.
Contoh lainnya, bayangkanlah bahwa Anda sedang berada dalam sebuah ruangan yang pintu dan jendelanya terkunci rapat. Anda sangat lapar, tetapi tidak tahu cara mengatasi kelaparan itu. Apakah yang dapat Anda lakukan? Mungkin Anda akan berteriak meminta pertolongan, tetapi Anda tidak melakukannya. Daripada berteriak-teriak Anda merasa lebih baik mengelilingi ruangan itu, mengamat-amati seluruh bagiannya, bahkan meraba-raba sambil mencari sesuatu berkali-kali.
Akhirnya Anda menemukan sebuah tombol kecil dekat sebuah lubang tipis yang lebarnya kira-kira 10 cm. Anda menekan tombol itu, lalu terdengar bunyi “tit-tit-tit” diiringi suara laksana jatuhnya sebuah benda ringan. Namun Anda tidak melihat apa-apa. Menghadapi situasi seperti ini mungkin Anda akan mundur untuk menghindari sesuatu yang mencelakakan. Tapi ketika suara aneh tadi berhenti, tiba-tiba sebuah benda tipis dan bulat muncul dari lubang. Kue mari! Kemudian kue ini Anda makan. Selanjutnya, karena Anda masih merasa lapar, tombol itu Anda tekan lagi berkali-kali untuk menghasilkan kue mari sebanyak banyaknya, hingga Anda akhirnya merasa kenyang.
Dalam situasi seperti tersebut di atas, tombol dan lubang tadi merupakan stimulus, sedangkan rasa lapar yang Anda alami adalah motivasi. Kedua unsur ini lalu menimbulkan respons khusus (penekanan tombol) yang akan terus meningkat dan lebih teratur, karena adanya penguat (reinforcer) yakni kue mari. Peristiwa seperti ini dalam psikologi belajar dikenal dengan istilah instrumental conditioning atau operant conditioning.Menurut Houston, respons-respons terhadap stimuli itulah yang disebut instrumental (penolong) yang berguna untuk memeroleh sesuatu atau perubahan yang diharapkan.
Namun perlu dipertanyakan, apakah belajar itu benar-benar hanya ditandai oleh adanya interaksi antara stimulus dengan respons?Bagaimapun, peristiwa belajar yang dialami manusia itu bukan semata mata masalah respons terhadap rangsangan yang ada, melainkan (yang terpenting) karena adanya self-direction, pengaturan dan pengarahan diri yang dikontrol oleh otak. Fungsi otak sebagai pengendali seluruh aktivitas mental dan behavioral, menurut tinjauan cognitivists (para ahli kognitif) sangat menentukan proses belajar manusia.
Ambilah sebuah contoh, seorang anak balita sedang mempelajari kata "kucing" dari ibunya.Ketika anak itu melihat kucing jantan, kecil, dan berbulu hitam di rumahnya, ibunya berkata, “Itu kucing,” lalu anak itu menirukan, “Itu kucing.” Citra kucing yang ia lihat menjadi echoic memory yang semuanya terserap oleh sensory register dan tersimpan dalam gudang sementara ini selama kurang dari satu detik. Kemudian, informasi dalam bentuk citra dan gema tersebut (iconic dan echoic) diserap oleh short termmemory (subsistem akal jangka pendek) untuk diproses menjadi arti-arti selama kurang dari satu detik, lalu diserap oleh subsistem memori/akal permanen. Dalam subsistem akal permanen anak balita tadi, telah tersimpan juga item-item informasi lain seperti kata "bagus”, kata “suka", dan item-item lainnya yang pernah ia lihat atau dengar sebelumnya.
Kemudian, keesokan harinya anak balita tadi melihat kucing lain di luar rumahnya, dan ibunya bertanya, “Apa itu? Saat pertanyaan ini diterima, sistem akal anak tersebut kembali berproses mencari jawaban, dan hasilnya di luar dugaan. Ternyata bukan hanya kata “kucing” yang ia peroleh melainkan juga kata “bagus” dan kata "suka” dalam tatanan kalimat yang logis. Ia menjawab, “Itu kucing bagus, Bu! Saya suka." Padahal, struktur kalimat yang melibatkan tiga kata itu (kucing, bagus, dan suka) tak pernah ia pelajari. Bahkan, kucing yang ia lihat di luar rumahnya itu pun jenis kelamin dan warnanya berbeda dengan kucing yang ia lihat di rumahnya kemarin.
Alhasil, belajar pada hakikatnya merupakan proses kognitif yang mendapat dukungan dari fungsi ranah psikomotor. Fungsi psikomotor dalam hal ini meliputi: mendengar, melihat, mengucapkan. Apapun jenis dan manifestasi belajar yang dilakukan siswa Anda, hampir dapat dipastikan selalu melibatkan fungsi ranah akalnya yang intensitas penggunaannya tentu berbeda dengan peristiwa belajar lainnya.Tugas Anda dalam hal ini memberi contoh penggunaan strategi kognitif yang tepat dalam arti sesuai dengan kapasitas umum siswa-siswa Anda dan selaras dengan kebutuhan dan tingkat kesulitan materi yang Anda ajarkan kepada mereka.[3]
C.    Ciri Khas Perilaku Belajar
Setiap perilaku belajar selalu ditandai oleh ciri-ciri perubahan yang spesifik. Diantara ciri-ciri perubahan khas yang menjadi karakteristik perilaku belajar yang terpenting adalah :
1.      Peubahan itu intensional
Perubahan yang terjadi dalam proses belajar adalah berkat pengalaman atau praktik yang dilakukan dengan sengaja dan disadari, atau dengan kata lain bukan kebetulan. Siswa menyadari akan adanya perubahan yang dialami atau merasakan adanya perubahan dalam dirinya seperti penambahan pengetahuan, kebiasaan, sikap dan pandangan sesuatu, keterampilan dan seterusnya. Menurut Anderson kesengajaan belajar itu tidak penting, yang penting cara mengelola informasi yang diterima siswa pada waktu pembelajaran terjadi. Di samping itu, dari kenyatan sehari-hari juga menunjukkan bahwa tidak semua kecakapan merupakan hasil kesengajaan belajar yang kita sadari.
2.      Perubahan itu positif dan aktif
Perubahan yang terjadi karena proses belajar bersifat positif dan aktif. Positif artinya baik, bermanfaat, serta sesuai dengan harapan. Adapun perubahan aktif artinya tidak terjadi dengan sendirinya seperti karena proses kematangan, karena usaha siswa itu sendiri.
3.      Perubahan itu efektif dan fungsional
Perubahan yang timbul karena proses belajar bersifat efektif, yakni berhasil guna. Artinya, perubahan tersebut membawa pengaruh, makna dan manfaat tertentu bagi siswa. Selain itu, perubahan dalam belajar bersifat fungsional dalam arti bahwa ia relatif menetap dan setiap saat apabila dibutuhkan, perubahan tersebut dapat direproduksi dan dimanfaatkan. Perubahan yang efektif dan fungsional biasanya bersifat dinamis dan mendorong timbulnya perubahan-perubahan positif. Contoh, jika seorang siswa belajar menulis,  disamping mampu merangkai kata ia juga akan memperoleh kecakapan lain seperti membuat catatan.[4]

D.    Proses Belajar
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam proses pembelajaran tentu mempunyai urutan langkah – langkah demi memperlancar dan mempermudah proses belajar sesuai dengan perkembangan anak . Langkah – langkah tersebut di antaranya adalah sebagai berikut :
1.      Belajar dan kematangan
Kematangan adalah suatu proses pertumbuhan organ – organ yang mana telah mencapai kesanggupan untuk menjalankan fungsinya masing – masing dan ini terjadi dari rangsangan dalam diri manusia secara sendirinya .Sedangkan belajar membutuhkan kegiatan yang kita sadari yang ini terjadi karena rangsangan dari luar.[5]
2.      Belajar dan penyesuaian diri
Dalam hal ini terdapat dua macam penyesuaian diri yaitu :
a.       Penyesuaian diri autoplastis , seseorang mengubah dirinya disesuaikan dengan keadaan lingkungan / dunia luar .
b.      Penyesuaian diri alloplastis , mengubah lingkungan atau dunia luar disesuaikan dengan kebutuhan dirinya.[6]
Dari dua jenis penyesuaian ini sangat berhubungan erat dengan belajar karena belajar memerlukan proses penyesuaian dan dalam penyesuaian juga dibutuhkan sebuah latihan – latihan yang eratkaitannya dengan proses belajar .Jadi , sama artinya dengan adanya simbiosis mutualisme antar keduanya .
3.      Belajar dan pengalaman
Mengalami sesuatu belum tentu merupakan belajar tapi tiap – tiap kegiatan  dari belajar berarti juga mengalami . Contoh kegiatan yang bukan belajar adalah mengalami sesuatu yang menyedihkan dapat menimbulkan apatis dan kesedihan. Jadi, ketika kita belajar sesuatu itu merupakan pengalaman yang sedang kita dapat dapatkan . Namun ketika kita mengalami sesuatu belum tentu itu merupakan sebuah proses belajar . Di sini dapat diambil kesimpulan bahwa dalam proses belajar tentu akan ada sebuah pengalaman . Yang pengalaman – pengalaman itu apabila dimanfaatkan dengan baik akan memberikan efek positif pada proses belajar .
4.      Belajar dan bermain
Bermain dan belajar memiliki kesamaan yaitu sama – sama merubah tingkah laku dari seseorang . Antara keduanya terdapat pula perbedaan , menurut sifatnya yaitu jika bermain hanya untuk kepuasan sesaat sedangkan belajar mempunyai tujuan untuk masa depan.
5.      Belajar dan pengertian
Dalam proses belajar saat ini kebanyakan dari kita mengira bahwa jika kita mengerti tentang sesuatu pasti kita akan berhasil dalam proses belajar padahal belum tentu seperti itu.
Contohnya saja yang terjadi pada kucing ketika dia latihan menangkap mangsa, awalnya dia tidak tau hal apa yang dia lakukan dan untuk tujuan apa . Dia hanya selalu melakukan hal itu secara terus menerus . Dan dia akan mengerti ketika dia semakin tumbuh besar.
6.      Belajar dan menghafal
Menghafal dan mengingat ternyata bukan merupakan suatu proses menghafal hal ini dikarenakan dalam menghafal dan mengingat saja tanpa kita mengerti apa maksud dan tujuan dari menghafal tersebut maka kita akan mudah lupa dan tidak tau manfaat apa yang akan kita dapat nantinya setelah kita hafal akan sesuatu tersebut . Karena dari suatu proses belajar pula akan menimbulkan perubahan tingkah laku sehingga apabila kegiatan menghafal dan mengingat itu tidak memberikan efek perubahan maka tidak disebut sebagai kegiatan belajar.[7]
7.      Belajar dan latihan
Persamaan dari dua hal ini adalah sama – sama dapat merubah tingkah laku seseorang namun dalam hal belajar belum tentu semuanya perlu latihan , misalnya anak yang menyentuh api akan merasa panas dan sejak itu dia tau bahwa api itu panas hal ini tidak perlu latihan untuk keberhasilan proses belajar hanya perlu pengertian saja. [8]
E.     Fase Belajar
Karena belajar itu merupakan aktivitas yang berproses, sudah tentu didalamnya terjadi perubahan-perubahan yang bertahap.Perubahan-perubahan tersebut timbul melalui fase-fase yang antara satu dengan yang lainnya bertalian secara berurutan dan fungsional.
Menurut Jerome S.Bruner, salah seorang penentang teori S-R Bond (Barlow, 1985), dalam proses pembelajaran siswa menempuh tiga fase.
1.      Fase informasi (tahap penerimaan materi)   
2.      Fase transformasi (tahap pengubahan materi)
3.      Fase evaluasi (tahap penilaian materi)
Dalam tahap informasi, seorang siswa yang sedang belajar memperoleh sejumlah keterangan mengenai materi yang sedang dipelajari. Di antara informasi yang diperoleh itu ada yang sama sekali baru dan berdiri sendiri, ada pula yang berfungsi menambah, memperhalus, dan memperdalam pengeahuan yang sebelumnya telah dimiliki. Dalam tahap transformasi, informasi yang telah diperoleh itu dianalisis, diubah, atau ditransformasikan menjadi bentuk yang abstrak atau konseptual supaya kelak pada gilirannya dapat dimanfaatkan bagi hal-hal yang lebih luas. Bagi siswa pemula, tahap ini akan berlangsung sulit apabila tidak disertai dengan bimbingan anda selaku guru yang diharapkan kompeten dalam mentransfer strategi kognitif yang tepat untuk melakukan pembelajaran tertentu. Dalam tahap evaluasi, seorang siswa menilai sendiri sampai sejauh mana pengetahuan (informasi yang telah ditransfornasikan tadi) dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala-gejala atau memecahkan masalah yang dihadapi.[9]
F.     Jenis-Jenis Belajar
Dalam proses belajar dikenal adanya bermacam-macam kegiatan yang memiliki corak yang berbeda antara satu dengan lainnya, baik dalam aspek materi dan metodenya maupun dalam aspek tujuan dan perubahan tingkah laku yang diharapkan. Keanekaragaman jenis belajar ini muncul dalam dunia pendidikan sejalan dengan kebutuhan kehidupan manusia yang juga bermacam-macam.
1.      Belajar Abstrak
Belajar abstrak ialah belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak.Tujuannya adalah untuk memeroleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata.Dalam mempelajari hal-hal yang abstrak diperlukan peranan akal yang kuat di samping penguasaan atas prinsip, konsep, dan generalisasi.Termasuk dalam jenis ini misalnya belajar matematika, astrOnomi, filsafat, dan materi bidang studi agama seperti tauhid.[10]
2.      Belajar Keterampilan
Belajar keterampilan adalah belajar dengan menggunakan gerakan gerakan motorik yakni yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot/ neuromuscular.Tujuannya untuk memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu.Dalam belajar jenis ini pelatihan intensif dan teratur amat diperlukan.Termasuk belajar dalam jenis ini misalnya belajar olahraga, musik, menari, melukis, memperbaiki benda-benda elektronik, dan juga sebagian materi pelajaran agama, seperti ibadah salat dan haji.
3.      Belajar Sosial
Belajar sosial pada dasarnya adalah belajar memahami masalah-masalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalahmasalah sosial seperti masalah keluarga, masalah persahabatan, masalah kelompok, dan masalah-masalah masalah -masalah lain yang bersifat kemasyarakatan.
selain itu, belajar sosial juga bertujuan untuk mengatur dorongan nafsu pribadi demi kepentingan bersama dan memberi peluang kepada orang lain atau kelompok lain untuk memenuhi kebutuhannya secara berimbang dan  proposional. Bidang-bidang studi yang termasuk bahan pelajaran sosial antara lain pelajaran agama dan PPKn. 
4.      Belajar Pemecahan Masalah
Belajar pemecahan masalah pada dasarnya adalah belajar menggunakan metode-metode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur, dan teliti.Tujuannya ialah untuk memeroleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas, dan tuntas.Untuk itu, kemampuan siswa dalam menguasai konsep-konsep, prinsipprinsip, dan generalisasi serta insight (tilikan akal) amat diperlukan.
Dalam hal ini, hampir semua bidang studi dapat dijadikan sarana belajar pemecahan masalah. Untuk keperluan ini, guru (khususnya yang mengajar eksakta, seperti matematika dan IPA) sangat dianjurkan menggunakan model dan.strategi mengajar yang berorientasi pada cara pemecahan masalah.
5.      Belajar Rasional
Belajar rasional ialah belajar dengan menggunakan kemampuan berpikir secara logis dan rasional (sesuai dengan akal sehat).Tujuannya ialah untuk memeroleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep.Jenis belajar ini sangat erat kaitannya dengan belajar pemecahan masalah.Dengan belajar rasional, siswa diharapkan memiliki kemampuan rasional problem solving, yaitu kemampuan memecahkan masalah dengan menggunakan pertimbangan dan strategi akal sehat, logis, dan sistematis.
Bidang-bidang studi yang dapat digunakan sebagai sarana belajar rasional sama dengan bidang-bidang studi untuk belajar pemecahan masalah. Perbedaannya, belajar rasional tidak memberi tekanan khusus pada penggunaan bidang studi eksakta. Artinya, bidang-bidang studi noneksakta pun dapat memberi efek yang sama dengan bidang studi  eksakta dalam belajar rasional.
6.      Belajar Kebiasaan
Belajar kebiasaan adalah proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan-kebiasaan yang telah ada. Belajar kebiasaan, Selain menggunakan perintah, suri teladan dan pengalaman khusus, juga menggunakan hukuman dan ganjaran. Tujuannya agar siswa memeroleh Sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan perbuatan baru yang lebih tepat
Dan positif dalam arti selaras dengan kebutuhan manusia ruang dan waktu (kontekstual). Selain itu, arti tepat dan positif diatas ialah selaras dengan norma dan tata nilai moral yang berlaku, baik yang bersifat religius maupun tradisional dan kultural. Belajar kebiasan akan lebih tepat dilaksanakan dalam konteks pendidikan keluarga sebagaimana yang dimaksud oleh UUSPN 2003 Bab VI Pasal 27 (1) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yakni TK dan RA (Raudhatul Athfal) sebagaimana yang diisyaratkan dalam Bab VI Pasal 28 (1) Undang-undang tersebut. Namun demikian, tentu tidak tertutup kemungkinan penggunaan Pelajaran agama sebagai sarana belajar kebiasaan bagi para siswa.[11]
7.      Belajar Apresiasi
Belajar apresiasi adalah belajar mempertimbangkan (judgment) arti penting atau nilai suatu objek.Tujuannya, agar siswa memeroleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa (affective skills) yang dalam hal ini kemampuan menghargai secara tepat terhadap nilai objek tertentu misalnya apresiasi sastra, apresiasi musik, dan sebagainya.
Bidang-bidang studi yang dapat menunjang tercapainya tujuan belajar apresiasi antara lain bahasa dan sastra, kerajinan tangan (prakarya), kesenian, dan menggambar. Selain bidang-bidang studi ini, bidang studi agama juga memungkinkan untuk digunakan sebagai alat pengembangan apresiasi siswa, misalnya dalam hal seni baca tulis Al-Qur'an.
8.      Belajar Pengetahuan
Belajar pengetahuan (studi) ialah belajar dengan cara melakukan : penyelidikan mendalam terhadap objek pengetahuan tertentu. Studi ini juga dapat diartikan sebagai sebuah program belajar terencana untuk menguasai materi pelajaran dengan melibatkan kegiatan investigasi dan eksperimen (Reber, 1988).Tujuan belajar pengetahuan ialah agar siswa memeroleh atau menambah informasi dan pemahaman terhadap pengetahuan tertentu yang biasanya lebih rumit dan memerlukan kiat khusus dalam mempelajarinya, misalnya dengan menggunakan alat-alat laboratorium dan penelitian lapangan.
Contoh: kegiatan siswa dalam bidang studi fisika mengenai "gerak" menurut hukum Newton I. Dalam hal ini siswa melakukan eksperimen untuk membuktikan bahwa setiap benda tetap diam atau bergerak secara beraturan, kecuali kalau ada gaya luar yang memengaruhinya. Contoh lainnya, kegiatan siswa dalam bidang studi biologi mengenai protoplasma yakni zat hidup yang ada pada tumbuhan dan hewan. Dalam hal ini siawa melakukan investigasi terhadap senyawa organik yang terdapat dalam protoplasma yang meliputi: karbohidrat, lemak, protein, dan asam nukleat. [12]
G.    Faktor Yang Mempengaruhi Belajar
Kemampuan belajar peserta didik sangat menentukan keberhasilannya dalam proses belajar. Di dalam proses belajar tersebut, banyak faktor yang mempengaruhinya. Secara global, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat dibedakan menjadi tiga macam, yakni:
1.         Faktor internal (faktor dari dalam siswa),
Faktor internal yakni keadaan/ kondisi jasmani dan rohani siswa.Faktor internal sendiri meliputi dua aspek, yakni:
a.    Aspek Fisiologis
Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat memengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran.
b.    Aspek Psikologis
Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat memengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan belajar siswa. Namun diantara faktor-faktor rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih esensial itu adalah sebagai berikut:
1)        Tingat kecerdasan/ intelegensi siswa
Intelegensi menurut Reber dapat diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat. Tingkat kecerdasan atau intelegensi (IQ) siswa tak dapat diragukan lagi, sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa.[13]
2)        Motivasi
Motivasi menurut Sumardi Suryabrata adalah keadaan yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitastertentu guna pencapaian tertentu. Sementara itu Gates dan kawan-kawan mengemukakan bahwa motivasi adalah suatu kondisi fisiologis dan psikologis yang terdapat dalam diri seseorang yang mengatur tindakannya dengan cara tertentu. Dari dua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah kondisi fisiologis dan psikologis yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan (kebutuhan).[14]
Dalam perkembangan selanjutnya, motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
a)        Motivasi intrinsik, yaitu hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar.
b)        Motivasi Ekstrinsik, yaitu hal dan keadaan yang datang dari luar individu siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Misalnya, pujian dan hadiah, guru, dan suri tauladan orang tua. [15]
3)        Sikap
Throw mendefinisikan sikap sebagai suatu kesiapan mental atau emosional dalam beberapa jenis tindakan pada situasi yang tepat. Disini Throw lebih menekankan pada kesiapan mental atau emosional seseorang terhadap sesuatu objek.[16]
Sikap (attitude) siswa yang positif, terutama kepada guru dan mata pelajaran yang disampaikan merupakan pertanda awal yang baik bagi proses belajar siswa tersebut. Sebaliknya, sikap negatif siswa terhadap guru dan mata pelajaran yang disampaikan, dan juga jika diiringi kebencian kepada guru atau kepada mata pelajaran yang dipelajari dapat menimbulkan kesulitan belajar siswa tersebut.[17]
4)        Bakat
Secara umum, bakat (aptitude) menurut Chaplin adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Dengan demikian, sebetulnya setiap orang pasti memiliki bakat dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi sampai ke tingkat tertentu sesuai kapasitas masing-masing.
Dalam perkembangan selanjutnya, bakat kemudian diartikan sebagai kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan pelatihan. Misalnya, seorang siswa yang berbakat dalam bidang elektro, akan jauh lebih mudah menyerap informasi, pengetahuan, dan ketrampilan yang berhubungan dengan bidang tersebut dibanding dengan siswa lainnya.[18]
5)        Minat
Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Crow and crow mengatakan  bahwa minat berhubungan dengan gaya gerak yang mendorong seseorang untuk menghadapi atau berurusan dengan orang, benda, kegiatan, pengalaman yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri. [19]
Umpamanya, seorang siswa yang menaruh minat besar terhadap matematika akan memusatkan perhatiannya lebih banyak daripada siswa lainnya. Itulah yang memungkinkan siswa tadi untuk belajar lebih giat, dan akhirnya mencapai prestasi yang diinginkan.[20]
2.        Faktor Eksternal Siswa
Seperti faktor internal siswa, faktor eksternal siswa juga terdiri atas dua macam, yakni: faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial.
a.       Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial sekolah seperti para guru, para tenaga kependidikan dan teman-teman sekelas dapat memengaruhi semangat belajar siswa.Lingkungan sosial siswa adalah masyarakat dan tetangga juga teman-teman di perkampungan siswa tersebut.
Lingkungan sosial yang lebih banyak memengaruhi kegiatan belajar ialah orangtua dan keluarga siswa itu sendiri.Sifat-sifat orangtua, praktik pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga, dan demografi keluarga (letak rumah), semuanya dapat memberi dampak baik atau buruk tehadap kegiatan belajar dan hasil yang diapai oleh siswa. Contoh: kebiasaan yang diterapkan orangtua siswa dalam mengelola keluarga yang keliru, seperi kelalaian orangtua dalam memonitor kegiatan anak, dapat menimbulkan dampak lebih buruk lagi.[21]
b.      Lingkungan Nonsosial
Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial ialah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa.
Contoh: kondisi rumah yang sempit dan berantakan serta perkampungan yang terlalu padat dan tidak memiliki sarana umum untuk kegiatan remaja (seperti lapangan voli) akan mendorong siswa untuk berkeliaran ke tempat tempat yang sebenarnya tidak pantas dikunjungi. Kondisi rumah dan perkampungan seperti itu jelas berpengaruh buruk terhadap kegiatan belajar siswa.[22]
3.        Faktor Pendekatan Belajar
            Pendekatan belajar menurut Lawson adalah keekfektifan segala cara atau strategi yang digunakan siswa dalam menunjang efektivitas dan efesien proses belajar materi tertentu. Strategi dalam hal ini berarti seperangkat langkah operasional yang direkayasa sedemikian rupa untuk memecahkan massalah atau mencapai tujuan belajar tertentu.
            Di samping faktor-faktor internal dan eksternal siswa sebagaimana yang telah dipaparkan di muka, faktor pendekatan belajar juga berpengaruh terhadap taraf keberhasilan proses belajar siswa tersebut. [23]







BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan

Berdasarkan uraian pada bagian pembahasan disimpulkan bahwa Proses adalah kata yang berasal dari bahasa latin “processus” yang berarti “berjalan ke depan”. Kata ini mempunyai konotasi urutan langkah atau kemajuan yang mengarah pada suatu sasaran atau tujuan. Menurut Chaplin, proses adalah: Any change in any object or organism, particulary a behavioral or psychological change (Proses adalah suatu perubahan khususnya yang menyangkut perubahan tingkah laku atau perubahan kejiwaan). Sedangkan belajar adalah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam/keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman.
Belajar merupakan sebuah proses yang mampu merubah tingkah laku seseorang yang memerlukan sebuah proses secara terus menerus . Dalam hal ini banyak sekali faktor – faktor yang mempengaruhi proses belajar sehingga diperlukan banyak latihan dan konsentrasi . Kita juga perlu mengetahui berbagai teori – teori tentang belajar sehingga menambah wawasan kita bagaimana cara belajar yang mampu membantu kita mendapatkan hasil yang maksimal. Yang sangat diharapkan setelah kita belajar tidaklah hanya menguasai teorinya saja, tetapi bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari yang dapat membuat kehidupan kita lebih baik.


 






DAFTAR PUSTAKA


Djaali. (2013). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Fudyartanta, K. (2011). Psikologi Umum. Yogyakarta : Pustaka Belajar.

Purwanto, N. (2014). Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Suryabrata, S. (2004 ). Psikology Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Syah, M. (2014). Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.



[1]Ki Fudyartanta, Psikologi Umum, (Yogyakarta : Pustaka Belajar, 2011), Hlm.268
[2]Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2014), Hlm. 84
[3]Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2014), Hlm. 91-92
[4] Ibid., Hlm.114-116
[5]Ngalim Purwanto, Op.Cit, Hlm. 86
[6]Ibid., Hlm.87
[7]Loc.Cit
[8]Ibid., Hlm.88
[9]Sumadi Suryabrata , Psikology Pendidikan , ( Jakarta : Raja Grafindo Persada , 2004 ), Hlm. 234
[10]Muhibbin Syah, Op.Cit., Hlm.120
[11]Ibid., Hlm.121
[12]Ibid., Hlm.122
[13]Muhibbin Syah, Op.Cit., Hlm.130-131
[14] Djaali, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), Hlm. 112
[15]Muhibbin Syah, Op.Cit,Hlm.134
[16]Djaali, Op.Cit, Hlm.114
[17]Muhibbin Syah, Op.Cit,Hlm.132
[18]Ibid, Hlm.133
[19]Djaali, Op.Cit, Hlm.121
[20]Muhibbin Syah, Op.Cit, Hlm.134
[21]Ibid, Hlm. 135
[22]Ibid, Hlm. 135-136
[23]Ibid, Hlm. 136
Copyright © EnnLaw | Floating Leaves template designed by ennyLaw | eLaw's Design