MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM
Alhamdullilah, Puji syukur kehadirat Allah
SWT atas limpahan rahmat dan anugrah dari-Nya saya dapat menyelesaikan makalah
tentang “Model Pengembangan Kurikulum” ini. Sholawat dan salam semoga
senantiasa tercurahkan kepada junjungan besar kita, Nabi Muhammad SAW yang telah
menunjukkan kepada kita semua jalan yang lurus berupa ajaran agama islam yang
sempurna dan menjadi anugrah terbesar bagi seluruh alam semesta.
Penulis sangat bersyukur
karena dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Model Pengembangan Kurikulum”
dengan tepat waktu walaupun banyak halangan dan rintangan yang dilalui.
Disamping itu, kami mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang
telah membantu saya selama pembuatan makalan ini berlangsung sehingga dapat
terealisasikanlah makalah ini.
Makalah ini tentu tidak terlepas dari
kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, penulis dengan senang hati menerima
saran dan kritik konstruktif dari pembaca guna penyempurnaan penulisan makalah
ini. Akhirnya, semoga makalah ini menambah khasanah keilmuan dan bermanfaat
bagi mahasiswa. Amin yaa robbal ‘alamin.
Pekalongan, 27 September 2018
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.............................................................................. i
DAFTAR ISI.............................................................................................. ii
BABI PENDAHULUAN..................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah........................................................ 1
B. Rumusan Masalah.................................................................. 1
C. Tujuan Penulisan.................................................................... 1
D. Metode Pemecahan Masalah................................................. 2
E. Sistematika
Penulisan Makalah............................................. 2
BAB II PEMBAHASAN........................................................................ 3
A. Pengertian model pengembangan
kurikulum......................... 3
B. Model pengembangan kurikulum.......................................... 5
C. Perbedaaan masing-masing
model pengembangan kurikulum 14
BAB III PENUTUP................................................................................. 17
A. Kesimpulan............................................................................ 17
D. Saran-saran............................................................................ 17
DAFTAR PUSTAKA............................................................................... 18
A. Latar Belakang Masalah
Kurikulum dan pembelajaran merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Sebagai suatu rencana atau program, kurikulum tidak akan bermakna manakala tidak diimplementasikan dalam bentuk pembelajaran. Demikian juga sebaliknya, tanpa kurikulum yang jelas sebagai acuan, maka pembelajaran tidak akan berlangsung secara efektif. Sedangkan untuk mengembangkan kurikulum sendiri mempunyai bermacam – macam model.
Model–model pengembangan kurikulum memegang peranan penting dalam kegiatan pengembangan kurikulum. Sungguh sangat naif bagi para pelaku pendidikan di lapangan terutama guru, kepala sekolah, pengawas bahkan anggota komite sekolah jika tidak memahami dengan baik keberadaan, kegunaan dan urgensi setiap model–model pengembangan kurikulum.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang tersebut perlu kiranya merumuskan masalah sebagai pijakan untuk
terfokusnya kajian makalah ini. Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut.
1. Apa pengertian model
pengembangan kurikulum?
2. Apa saja model pengembangan
kurikulum?
3. Bagaimana perbedaan
masing-masing model pengembangan kurikulum?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah
ini aadalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian model pengembangan kurikulum
2. Untuk mengetahui model pengembangan kurikulum
3. Untuk mengetahui bagaimana
perbedaan masing-masing model pengembangan kurikulum
D. Metode Pemecahan Masalah
Metode
pemecahan masalah yang dilakukan melalui studi literatur/metode kajian pustaka,
yaitu dengan menggunakan beberapa referensi buku atau dari referensi lainnya
yang merujuk pada permasalahan yang dibahas. Langkah-langkah pemecahan
masalahnya dimulai dengan menentukan
masalah yang akan dibahas dengan melakukan perumusan masalah, melakukan
langkah-langkah pengkajian masalah, penentuan tujuan dan sasaran, perumusan
jawaban permasalahan dari berbagai sumber, dan penyintesisan serta
pengorganisasian jawaban permasalahan.
E. Sistematika Penulisan Makalah
Makalah
ini ditulis dalam tiga bagian, meliputi: Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri
dari: latar belakang masalah, perumusan masalah, metode pemecahan masalah, dan
sistematika pnulisan makalah; Bab II, adalah pembahasan; Bab III, bagian
penutup yang terdiri dari simpulan dan saran-saran.
Kata kurikulum berasal dari bahasa Yunani yang semula
digunakan dalam bidang olahraga, yaitu “currere” yang berarti jarak tempuh lari, yakni jarak
yang harus ditempuh dalam kegiatan berlari mulai dari start hingga finish.
Sedangkan pengertian kurikulum menurut Pendidikan Islam dalam kamus bahasa
Arab, kata “Manhaj” (kurikulum) bermakna jalan yang terang yang dilalui
manusia pada berbagai bidang kehidupan.
Pengembangan kurikulum adalah perencanaan
kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membawa siswa kearah
perubahan-perubahan yang diinginkan dan menilai hinga mana perubahan-perubahan
itu telah terjadi pada siswa. Pada prinsipnya penembangan kurikulum berkisar
pada pengembangan aspek ilmu pengetahuan dan teknologi yang perlu diimbangi
dengan perkembangan pendidikan.[1]
Model
atau konstruksi merupakan ulasan teoretis tentang suatu konsepsi dasar. Dalam
pengembangan kurikulum, model dapat merupakan ulasan teoretis tentang suatu
proses kurikulum secara menyeluruh atau dapat pula merupakan ulasan tentang
salah satu bagian kurikulum. Disamping itu, ada model yang mempersoalkan keseluruhan
proses dan ada pula yang hanya menitikberatkan pandangannya pada mekanisme
penyusun kurikulumnya. Ulasan teoretis demikian dapat pula hanya mengutamakan
uraiannya pada segi organisasi kurikulum dan ada pula yang menitikberatkan
ulasannya hanya pada hubungan antar pribadi orang-orang yang terlibat dalam
pengembangan kurikulum aplikasi model-model sebaiknya didasarkan pada
faktor-faktor konstan, sehingga ulasan tentang model yang dibahas dapat
ungkapkan secara konsisten. Dasar pemikiran ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan
dalam menganalisis model kurikulum. [2]
Robert
S. Zais dalam bukunya “Curriculum : Principles and Foundations” mengemukakan
delapan model
pengembangan kurikulum. Dasar teoritisnya adalah institusi atau orang yang
menyelenggarakan pengembangan, pengambilan keputusan, penerapan ruang kegiatan
yang termuat dalam kurikulum, realitas implementasinya, pendekatan permasalahan
dengan cara pelaksanaannya, penelitian sistematis tentang masalahnya, dan
pemanfaatan teknologi dalam pengembangan kurikulum.[3]
Menurut
good(1972) dan travers(1973), model
adalah abstraksi dunia nyata atau representasi peristiwa kompleks atau sistem
dalam bentuk naratif, matematis, grafis, serta lambang-lambang lainnya. model
bukanlah realitas, akan tetapi merupakan representasi realitas yang
dikembangkan dari keadaan. Dengan demikian, model pada dasarnya berkaitan
dengan rancangan yang dapat digunakan untuk menerjemahkan sesuatu ke dalam
realitas yang sifatnya lebih praktis. model berfungsi sebagai sarana untuk
mempermudah berkomunikasi atau sebagai petunjuk yang bersifat perspektif untuk
mengambil keputusan atau sebagai petunjuk perencanaan untuk kegiatan
pengelolaan. Nadler (1988) menjelaskan bahwa model yang dapat menolong si
pengguna untuk mengerti dan memahami suatu proses secara mendasar dan
menyeluruh. Selanjutnya ia menjelaskan
manfaat model adalah sebagai berikut :
a.
Model dapat menjelaskan beberapa aspek perilaku
dan interaksi manusia
b.
Model dapat mengintegrasikan seluruh pengetahuan
hasil observasi dan penelitian
c.
Model
dapat menyederhanakan suatu proses yang bersifat Kompleks
d.
Model dapat digunakan sebagai pedoman untuk
melakukan kegiatan
Dalam kurikulum, seringkali digunakan model
dengan menggunakan grafik untuk menggambar elemen-elemen kurikulum, hubungan
antar elemen, serta proses pengembangan dan implementasi kurikulum. [4]
Pada prinsipnya, pengembangan kurikulum berkisar
pada pengembangan aspek ilmu pengetahuan dan teknologi yang perlu diimbangi
dengan perkembangan pendidikan. Manusia, disisi lain, seringkali memiliki
keterbatasan dalam kemampuan menerima, menyampaikan, dan mengolah informasi,
karenanya diperlukan proses pengembangan kurikulum yang akuratdan terseleksi
serta memiliki tingkat relevansi yang kuat. Dengan demikian, dalam
merealisasikannya, diperlukan suatu model pengembangan kurikulum dengan
pendekatan yang sesuai. [5]
Uraian teoretis tentang konsepsi dasar tersebut
dinamakan model atau konstruksi. Pengembangan kurikulum model tersebut
merupakan ulasan teoretis tentang suatu proses kurikulum secara total atau
parsial, yaitu salah satu komponen kurikulum saja. Ulasan teoretis tersebut
menekankan pada ulasan yang berbeda-beda.ada yang menitikberatkan pada komponen
organisasi kurikulum dan ada pula yang menekankan pada hubungan antara pribadi
yang terlibat dalam pengembangan kurikulum.
Dalam pengembangan model kurikulum, sedapat
mungkin didasarkan pada faktor-faktor yang konstan
sehingga ulasan mengenai model-model yang dibahas dapat dilakukan secara
konsisten.faktor-faktor konstan yang dimaksudkan adalah dalam pengembangan
model Kurikulum perlu didasarkan pada tujuan, bahan pelajaran, proses belajar
mengajar dan evaluasi yang tergambar dalam proses pengembangan tersebut.
B. Model Pengembangan
Kurikulum
Dalam penggunaan kurikulum
ada beberapa model yang dapat digunakan. setiap motif memiliki kekhasan
tertentu baik dilihat dari keluasan pengetahuan kurikulum yaitu sendiri maupun
dilihat dari tahapan pengembangannya sesuai dengan pendekatannya.
1.
Model Tyler
Teori ini lebih bersifat bagaimana merancang suatu kurikulum sesuai
dengan tujuan dan misi suatu institusi pendidikan menurut Tyler ada 4 yang
dianggap fundamental untuk mengembangkan kurikulum. Pertama, berhubungan dengan
tujuan pendidikan yang dicapai. Kedua, berhubungan dengan pengalaman belajar
untuk mencapai tujuan. Ketika, pengorganisasian pengalaman belajar, dan
keempat, berhubungan dengan evaluasi.
a.
Menentukan
Tujuan
Merumuskan tujuan kurikulum, sebenarnya sangat
tergantung dari teori dan filsafat pendidikan serta model kurikulum apa yang
dianut. Bagi pengembangan kurikulum subjek akademis, maka
penguasaan berbagai konsep dan teori seperti yang tergambar dalam disiplin ilmu
merupakan sumber tujuan utama.
kurikulum yang kemudian
dinamakan sebagai kurikulum yang bersifat “discipline oriented”.berbedadengan
pengembangan kurikulum model humanistik yang lebih bersifat “child centered”
yaitu kurikulum yang lebih berpusat pada pengembangan pribadi siswa, maka
menjadi sumber utama dalam perumusan tujuan Tentu saja itu sendiri, baik yang
berhubungan dengan pengembangan minat dan bakat serta kebutuhan untuk membekali
hidupnya. lain lagi dengan kurikulum rekonstruksi sosial. kurikulum yang lebih
bersifat “SocietyCentered” ini memosisikan kurikulum sekolah sebagai
alat untuk memperbaiki kehidupan masyarakat, maka kebutuhan dan masalah-masalah
sosial kemasyarakatan merupakan sumber tujuan utama kurikulum. [6]
b.
Menentukan pengalaman belajar pengalaman belajar
menunjukkan kepada siswa dalam proses pembelajaran. Dengan demikian yang harus
dipertanyakan dalam pengalaman ini adalah apa yang akan atau telah dikerjakan
“siswa bukan apa yang akan” atau “telah diperbuat guru” untuk itu guru sebagai
pengembang kurikulum mestinya memahami apa minat siswa,serta Bagaimana latar
belakangnya. dengan pemahaman tersebut, akan memudahkan bagi guru dalam
mendesain lingkungan yang dapat mengaktifkan siswa memperoleh pengalaman
belajar.
Terdapat beberapa bentuk pengalaman belajar yang dapat
dikembangkan commentshareand pengalaman belajar untuk dikembangkan, misalkan
pengalaman belajar untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa,pengalaman
belajar untuk membantu siswa dalam mengumpulkan sejumlah informasi, pengalaman
belajar untuk membantu mengembangkan sikap sosial, dan pengalaman untuk
membantu mengembangkan minat.
c.
Mengorganisasi pengalaman belajar
Ada dua
jenis mengorganisasi pengalaman belajar.Pertama, pengorganisasian secara
vertikal dan secara horizontal. pengorganisasian secara vertikal apabila
menghubungkan pengalaman belajar dalam suatu kajian yang sama dalam tingkat
yang berbeda. Misalkan, pengorganisasian pengalaman belajar yang menghubungkan
antara bidang geografi kelas lima dan geografi kelas enam. Sedangkan pengorganisasian secara horizontal
jika kita menghubungkan pengalaman belajar dan bidang geografi dan sejarah
dalam tingkat yang sama. Kedua hubungan ini sangat penting dalam proses mengorganisasikan
pengalaman belajar. Misalkan
hubungan vertikal akan mungkin Siswa memiliki pengalaman belajar yang semakin
luas dalam kajian yang sama sedangkan hubungan horizontal, antara
pengalamanbelajar yang satu dan yang lain akan saling mengisi dan memberikan
penguatan.[7]
d. Evaluasi
Proses
evaluasi merupakan langkah yang sangat penting untuk dapatkan informasi tentang
pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. evaluasi memegang peranan yang
cukuppenting, sebab dengan evaluasi dapat ditimbulkan apabila kurikulum yang
digunakan sudah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah atau
belum. Ada dua aspek yang perlu diperhatikan sehubungan dengan evaluasi.
Pertama, evaluasi harus menilai Apakah telah terjadi perubahan tingkah laku
siswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah dirumuskan. Kedua, evaluasi
sebaiknya menggunakan lebih dari satu alat penilaian dalam suatu waktu
tertentu. Dengan demikian, penilaian suatu program tidak mungkin hanya dapat
mengandalkan hasil tes siswa setelah akhir proses pembelajaran.
ada dua fungsi evaluasi :pertama, evaluasi digunakan
untuk memperoleh data tentang ketercapaian tujuan oleh peserta didik. dengan
kata lain, bagaimana tingkat pencapaian tujuan atau tingkat penguasaan isi
kurikulum oleh setiap siswa. fungsi ini dinamakan sebagai fungsi sumatif. Kedua, melihat efektivitas proses pembelajaran.
Dengan kata lain apakah program yang disusun telah dianggap sempurna atau Perlu
diperbaikan. fungsi ini kemudian dinamakan fungsi formatif.
2. Model
Taba
Berbeda
dengan model yang dikembangkan Tyler, Model
Taba lebih menitikberatkan kepada Bagaimana mengembangkan kurikulum sebagai
suatu proses perbaikan dan penyempurnaan. Oleh karena itu, model ini dikembangkan
tahapan-tahapan yang harus dilakukan oleh para pengembang kurikulum. [8]
Hilda
Taba tidak sependapat dengan langkah tersebut. Alasannya, pengembangan
kurikulum secara deduktif tidak dapat menciptakan pembaharuan kurikulum. Oleh
karena itu, menurut Hilda Taba sebaiknya kurikulum dikembangkan secara terbalik
yaitu dengan pendekatan induktif.
Ada lima
langkah pengembangan kurikulum model terbalik dari tabel ini.
a.
Menghasilkan unit-unit percobaan (pilot unit)
melalui langkah-langkah:
1.
Mendiagnosis kebutuhan
2.
Memformulasi tujuan
3.
Memilih isi
4.
Mengorganisasi isi
5.
Memilih pengalaman belajar
6.
Mengorganisasi pengalaman belajar
7.
Menentukan alat evaluasi serta prosedur yang
harus dilakukan siswa.
8.
Menguji keseimbangan isi kurikulum.
b.
Menguji coba unit eksperimen untuk memperoleh
data dalam rangka menemukan validitas dan kelayakan penggunaannya.
c.
Merevisi dan mengonsolidasikan unit-unit
eksperimen berdasarkan data yang diperoleh dalam uji coba.
d.
Mengembangkan keseluruhan kerangka kurikulum.
3. Model
Oliva
Menurut
Oliva model yang dikembangkan ini adalah yang digunakan dalam beberapa dimensi.
Pertama, untuk penyempurnaan kurikulum sekolah dalam bidang-bidang khusus,
misalnya penyempurnaan kurikulum bidang studi tertentu di sekolah, baik dalam
tataran perencanaan kurikulum maupun dalam proses pembelajarannya.Kedua, model
ini juga dapat digunakan untuk membuat keputusan dalam merancang suatu program
kurikulum. Ketiga, model ini dapat digunakan dalam mengembangkan program pembelajaran secara khusus.
4. Model
Beauchamp
Model
ini dinamakan sistem Beauchamp, karena memang diciptakan dan dikembangkan oleh
Beauchamp seorang ahli kurikulum. Beauchamp mengemukakan ada lima langkah dalam
proses pengembangan kurikulum.
a.
Menetapkan wilayah atau area yang akan melakukan
perubahan suatu kurikulum
b.
Menetapkan orang-orang yang akan terlibat dalam
proses pengembangan kurikulum.
c.
Menetapkan prosedur yang akan ditempuh yaitu
dalam hal merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus memiliki isi dan pengalaman
belajar serta menetapkan evaluasi.
d.
Implementasi kurikulum.
Tahap ini
perlu dipersiapkan secara matang berbagai hal yang dapat berpengaruh baik
langsung maupun tidak langsung terhadap efektivitas penggunaan kurikulum,
seperti pemahaman guru tentang kurikulum itu, sarana atau fasilitas yang
tersedia, manajemen sekolah, dan lain sebagainya.
e.
Melaksanakan evaluasi kurikulum yang menyangkut
:
1. Evaluasi
terhadap pelaksanaan kurikulum oleh guru-gurudisekolah.
2. Evaluasi
terhadap desain kurikulum.
3. Evaluasi
keberhasilan anak didik.
5. Model
Wheeler
Menurut
Wheeler, pengembangan kurikulum merupakan suatu proses yang membentuk
lingkaran. proses pengembangan kurikulum terjadi secara terus menerus. wheeler
berpendapat proses pengembangan kurikulum terdiri dari lima fase(tahap). setiap tahap merupakan pekerjaan yang
berlangsung secara sistematis atau berurut. Artinya, kita tidak mungkin dapat
menyelesaikan tahap kedua, manakala tahap pertama belum terselesaikan. Namun
demikian manakala setiap rakaat sudah selesai dikerjakan kita akan kembali pada
tahap awal.
Wheeler
berpendapat, pengembangan kurikulum terdiri atas 5 tahap, yakni
a.
Menentukan tujuan umum dan tujuan khusus.
b.
Menentukan pengalaman belajar yang mungkin dapat
dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuannya dirumuskan dalam langkah pertama.
c.
Menentukan Isi atau materi pembelajaran sesuai
dengan pengalaman belajar.
d.
Mengorganisasikan pengalaman belajar dengan Isi
atau materi belajar.
e.
Melakukan evaluasi setiap fase pengembangan dan
pencapaian tujuan.
Dari
langkah-langkah pengembangan kurikulum ditemukan bila rumah tanpa bahwa
pengembangan kurikulum membentuk sebuah siklus (lingkaran) pada hakikatnya nya
setiap tahapan Pada siklus membentuk sebuah sistem yang terdiri dari
komponen-komponen pengembangan yang saling bergantung satu sama lain.
6. Model
Nicholls
Dalam
bukunya developing a Curriculum : A practical Guide menjelaskan bahwa
pendekatan pengembangan kurikulum terdiri batas elemen-elemen kurikulum yang
membentuk siklus.
Model pengembangan kurikulum Nicholls menggunakan
pendekatan siklus seperti model Wheeler digunakan apabila ingin menyusun
kurikulum baru yang diakibatkan oleh terjadinya perubahan situasi. Ada lima
Langkah pengembangan kurikulum menurut Nicholls yaitu :
a.
Analisis situasi
c.
Menentukan dan mengorganisasi isi pelajaran.
d.
Menentukan dan mengorganisasi metode
e.
Evaluasi.
7. Model
Dynamic skillbeck
Menurut
skillbeck, Model pengembangan kurikulum yang dinamakan model dynamic adalah
model pengembangan kurikulum pada level sekolah (School Nased Curriculum
Development).
Skillbeck menjelaskan model ini diperuntukkan untuk
setiap guru yang ingin mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan
sekolah. agar proses pengembangan berjalan dengan baik, maka setiap pengembangan
termasuk guru perlu memahami lima elemen pokok yang dimulai dari menganalisis
situasi sampai pada melakukan penilaian. skilbeck menganjurkan model
pengembangan kurikulum yang ia susun dapat dijadikan alternatif dalam
pengembangan kurikulum tingkat Sekolah.
Menurut
Skillbeck langkah-langkah pengembangan kurikulum adalah sebagai berikut :
a.
menganalisis
situasi
b.
memformulasi
tujuan
c.
menyusun program interpretasi dan implementasi
d.
Monitoring,
feedback, penilaian, dan rekonstruksi.
8. The demonstration model
Model demonstrasi pada
dasarnya bersifat grass roots. Model ini diprakarsai oleh sekelompok
guru atau sekelompok guru bekerja sama dengan ahli yang bermaksud mengadakan
perbaikan kurikulum. Model ini hanya mencakup suatu atau beberapa sekolah,
suatu komponen kurikulum atau mencakup keseluruhan komponen kurikulum.[12]
Menurut Smith, Stanley,
dan Shores ada dua variasi model demonstrasi ini. Pertama, sekelompok guru dari
satu sekolah atau beberapa sekolah ditunjuk untuk melaksanakan suatu percobaan tentang pengembangan
kurikulum. Bentuk yang kedua, beberapa guru yang mersa kurang puas dengan
kurikulum yang ada, mengadakan penelitian dan pengembangan sendiri.[13]
9. Roger’s interpersonal relations model
Menurut Rogers manusia
berada dalam proses perubahan, sesungguhnya ia mempunyai kekuatan dan potensi
untuk berkembang sendiri, tetapi karena ada hambatan-hambatan tetentu
membutuhkan bantuan orang lain. Ada
empat langkah pengembangan kurikulum model Rogers. Pertama, pemilihan target
dari sitem pendidikan. Kedua, partisipasi guru dalam pengalaman kelompok yang
intensif. Ketiga, pengembangan pengalaman kelompok yang intensif untuk satu
kelas atau unit pelajaran. Keempat, partisipasi orang tua dalam kegiatan
kelompok.
Berdasarkan pandangan tentang manusia, maka
Roger mengemukakan model pengembangan kurikulum yang disebut dengan model
relassi interpersonal Roger. Model ini terdiri dari empat langkah pengembangan
kurikulum, yaitu :
a.
Memilih
suatu sistem pendidikan sasaran
b.
Pengalaman
kelompoyang intensif bagi guru
c.
Pengembangan
suatu pengalaman kelompok yang intensif bagi satu kelas atau unit pelajaran
10. The systematic action-research model
Model kurikulum ini
didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan kurikulum merupakan perubahan sosial.
Penyusunan kurikulum harus memasukkan pandangan dan harapan-harapan masyarakat,
dan salah satu cara untuk mencapai hal itu adalah dengan prosedur action reseach.
11. The administrative model
Model ini paling lama dan paling banyak di kenal. Diberi nama model administrasi atau line staff karena inisiatif dan gagasan
pengembangan datang dari para administrator pendidikan dan menggunakan prosedur
administrasi. Dari wewenang administrasinya, administrator pendidikan (apakah dirjen, direktur, atau kepala kantor wilayah pendidikan dan kebudayaan)
membentuk suatu komisi atau tim pengarah pengembangan kurikulum.
Anggota-anggota komisi atau tim ini terdiri
atas, pejabat di bawahnya, para ahli pendidikan, ahli kurikulim, ahli disiplin
ilmu, dan para tokoh dari dunia kerja dan perusahaan. [15]
Tugas tim atau komisi ini adalah merumuskan konsep-konsep dasar, landasan-landasan, kebijaksanaan dan
strategi utama dalam pengembangan kurikulum. Setelah
landasan-landasan itu dirumuskan dan mendapat pengkajian yang seksama,
administrator pendidikan menyusun tim atau komisi kerja pengembangan kurikulum.
Para anggota tim atau komisi ini terdiri atas para ahli pendidikan/kurikulum,
ahli disiplin ilmu, guru-guru bidang studi yang senior.
Setelah semua tugas dari tim kerja pengembangan kurikulum tersebut
selesai, hasilnya dikaji ulang oleh tim pengarah serta para ahli lain yang
berwenang atau pejabat yang kompeten. Setelah mendapat beberapa penyempurnaan,
dan dinilai cukup baik, administrator memberi tugasmenetapkan berlakunya
kurikulum tersebut, serta memerintahkan sekolah-sekolah untuk melaksanakan
kurikulum tersebut.[16]
12. The
grass roots model
Model pengembangan ini merupakan awal dari model pertama. Inisiatif
dan upaya pengembangan kurikulum, bukan dari atas tetapi dari bawah, yaitu
guru-guru atau sekolah. Dalam model pengembangan yang bersifat grass roots seorang guru, sekelompok
guru atau keseluruan guru di suatu sekolah mengadakan upaya pengembangan
kurikulum. Pengembangan atau penyempuranaan ini dapat berkenaan dengan suatu
komponan kurikulum, satu atau beberapa bidang studi ataupun seluruh bidang
studi dan seluruh komponen kurikulum.
Pengembangan kurikulum yang bersifat desentralisasi dengan model
grass rootsnya, memungkinkan terjadinya kompetensi di dalam meningkatkan mutu
dan sistem pendidikan, yang pada gilirannya akan melahirkan manusia-manusia
yang lebih mandiri dan kreatif.[17]
C. Perbedaan Masing-Masing Model Pengembangan Kurikulum
1.
Pada model administratif
penekanan diberikan pada orang-orang yang terlibat dalam pengembangan kurikulum
dengan uraian tugas dan fungsinya masing-masing, disamping pengarahan kegiatan
yang bercirikan dari atas ke bawah. Model ini pada dasarnya mudah dilaksanaan
pada negara penganut sistem sentralisasi dalam pengembangan kurikulum dan juga
bagi negara yang kemampuan profesional guru-gurunya masih lemah. Kekurangannya
terletak pada kurangnya dampak perubahan kurikulum.
2.
Model demonstrasi,
keuntungannya terletak pada suatu segmen kurikulum yang sudah melalui testing
sehingga terjamin akurasi dan validitasnya.
3.
Model
Beauchamp ini lebih menonjol pada penegasan arena sehingga mudah
dan jelaslah ruang lingkup kegiatan.
4.
Model Taba lebih
mengintregasikan teori dengan praktik, tetapi sulit mengorganisasikannya karena
memerlukan kemampuan teoretis dan profesional yang tinggi dari guru-guru atau
administrator pelaksananya.
5.
Dalam Roger’s
interpersonal relations model lebih mengutamakan hubungan antarpribadi
denganMharapan dapat menghasilkan penerapan kurikulum yang lebih baik dan
sukses. Model ini mendekatkan permasalahan dengan para pelaksananya sehingga
memudahkan pemecahannya. Meskipun demikian, model ini sukar dilaksanakan karena
mahal, waktunya relatif lama dan sukar diorganisasikan.[18]
6.
The systematic action-research model lebih
mengutamakan penelitian sistematis oleh orang lapangan tentang masalah-masalah
kurikulum. Hal demikian jelas mendekatkan permasalahan kurikulum dengan
realitas penerapannya. Kesukaran dari model ini adalah penerapannya memerlukan
staf profesional khusus yang terlatih dalam penelitian dan diperlukan biaya
yang tinggi.[19]
7. The Grass Roots Model, Keuntungan dari model
ini adalah proses pengambilan keputusan terletak pada pelaksana,
mengikutsertakan pihak bawah khussnya para staff mengajar dan memungking
terjadinya kompetensi di dalam meningkatkan mutu dan sistem.
Kelemahan pengembangan kurikulum yg bersifat Grass Roots Model mungkin hanya
berlaku untuk bidang studi tertentu atau sekolah tertentu tetapi mungkin pula
dapat digunakan untuk bidang studi sejenis pada sekolah lain, atau keseluruhan
bidang studi pada sekolah atau daerah lain. Pengembangan kurikulum yang
bersifat desentralisasi dengan model grass rootsnya, memungkinkan terjadinya
kompetisi di dalam meningkatkan mutu dan sistem pendidikan yang pada gilirannya
akan melahirkan manusia-manusia yang lebih mandiri dan kreatif.
8. Model Dynamic skillbeck
Skilbeck menjelaskan model ini diperuntukkan untuk setiap guru yang
ingin mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan sekolah. Agar proses
pengembangan berjalan dengan baik, maka setiap pengembangan termasuk guru perlu
memahami lima elemen pokok yang dimulai dari menganalisis sesuatu sampai pada
melakukan penilaian. Skilbeck menganjurkan model pengembangan kurikulum yang ia
susun dapat dijadikan alternatif dalam pengembangan kurikulum tingkat sekolah[20]
9.
Model
Nicholls
Model Nichools digunakan apabila ingin meyusun kurikulum baru yang
diakibatkan oleh terjadinya perubahan situasi.
10.
Model
Wheeler
Kontribusi
Wheeler terhadap pengembangan kurikulum adalah terhadap hakikat lingkaran dari
elemen-elemen kurikulum. Kurikulum proses disini tampak lebih sederhana dan
gambar diatas memberikan indikasi bahwa langkah-langkah dalam lingkaran yang
bersifat berkelanjutan memiliki makna responsif terhadap perubahan-perubahan pendidikan yang ada.
11. Model
Tyler
Model pengembangan Tyler ini lebih bersifat bagaimana
merancang suatu kurikulum sesuai dengan tujuan dan misi suatu institusi
pendidikan. Ada 4 hal yang dianggap funfamental untuk mengembangkan kurikulum
yaitu berhubungan dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai, berhubungan
dengan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan, pengorganisasian pengalaman,
berubungan dengan evaluasi.
12.
Model Olivia
Menurut Olivia suatu model kurikulum
harus bersifat simpel,komprehensif dan sistematik. Olivia menggambarkan, model
pengembangankurikulum seperti rumusan filsafat, rumusan tujuan umum, rumusan tujuankhusus, desain perencanaan, implementasi dan evaluasi
merupakankomponen-komponen yang tampak saja, karena dalam kenyataannya mengembangkan
suatu kurikulum ada 1 komponen yang saling berkaitan.[21]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada bagian pembahasan disimpulkan bahwa Model
atau konstruksi merupakan ulasan teoretis tentang suatu konsepsi dasar. Dalam
pengembangan kurikulum, model dapat merupakan ulasan teoretis tentang suatu
proses kurikulum secara menyeluruh atau dapat pula merupakan ulasan tentang
salah satu bagian kurikulum.
Dalam penggunaan kurikulum
ada beberapa model yang dapat digunakan Model
Dynamic skillbeck, Model
Nicholls, Model Wheeler, Model Tyler, Model Oliva, The
Grass Roots Model, The systematic
action-research, Roger’s interpersonal relations, Model Taba, Model
Beauchamp, Model demonstrasi, Pada
model administratif.
B. Saran
Demikianlah makalah yang telah kelompok kami susun. Kami berharap makalah ini berguna sebagaimana mestinya dan dapat diterima dengan baik. Tapi, sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekurangan, kami juga mengharapkan kritik dan saran yang membangun sehingga kami sebagai pemakalah dapat memperbaiki kekurangan dan mempertahankan kelebihan yang ada pada makalah kami. Terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin,
Zainal. 2014.Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya
Damyati, M. 1998. Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Idi, Abdullah. 2013. Pengembanagan Kurikulum :
Teori dan Praktik Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Haryati, Nik. 2011. Pengembangan
Kurikulum Pendidikan Agama Islam. Bandung: Alfabeta
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2001 Pengembangan
Kurikulum Teori dan Praktik. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Usmar, A. 2017.
Model-model Pengembangan Kurikulum dalam Proses Kegiatan Belajar. An-Nadhah.
Vol. 11 No.2. 2.
[2]
Abdullah Idi, Pengembanagan
Kurikulum : Teori dan Praktik( Jogjakarta:Ar-Ruzz Media, 2013), hlm. 176-177
[4]
Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan
Kurikulum Teori dan Praktik, (Bandung:PT. Remaja Rosdakarya,2001)hlm.162
[6]
Ibid, hlm. 162-163
[7]
Ibid, hlm.163
[8]Ibid,
hlm. 163
[9]
Ibid,hlm.164.
[10]Ibid,
hlm. 164-165
[11]
Ibid, hlm. 165
[14]Mudjiono Damyati, Belajar dan Pembelajaran,
(Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1998) hlm.
285
[16]Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan
Kurikulum Teori dan Praktik, (Bandung:PT. Remaja
Rosdakarya,2001)hlm.162-169
[17]Nik Haryati, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Alfabeta,
2011), hlm. 50
[18]Zainal Arifin, Konsep
dan Model Pengembangan Kurikulum,( Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2014)
hlm.143-145
[20]Ar Rifai,
http://nurfitriwulansari.blogspot.com/2013/03/makalah-model-pengembanga-kurikulum.html?m=1
[21]Abdullah idi, Pengembangan Kurikulum:Teori dan Praktik
( Jogjakarta : Ar- Ruzz Media, 2013) hlm. 180
0 komentar:
Posting Komentar