Kamis, 15 November 2018

Kajian Kurikulum : Model Pengembangan Kurikulum


MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM




            Alhamdullilah, Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan anugrah dari-Nya saya dapat menyelesaikan makalah tentang “Model Pengembangan Kurikulum” ini. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan besar kita, Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan kepada kita semua jalan yang lurus berupa ajaran agama islam yang sempurna dan menjadi anugrah terbesar bagi seluruh alam semesta.
Penulis sangat bersyukur karena dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Model Pengembangan Kurikulum” dengan tepat waktu walaupun banyak halangan dan rintangan yang dilalui. Disamping itu, kami mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu saya selama pembuatan makalan ini berlangsung sehingga dapat terealisasikanlah makalah ini.
Makalah ini tentu tidak terlepas dari kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, penulis dengan senang hati menerima saran dan kritik konstruktif dari pembaca guna penyempurnaan penulisan makalah ini. Akhirnya, semoga makalah ini menambah khasanah keilmuan dan bermanfaat bagi mahasiswa. Amin yaa robbal ‘alamin.

                                                                          Pekalongan, 27 September 2018


                                    Penulis






DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR..............................................................................      i
DAFTAR ISI..............................................................................................      ii

BABI       PENDAHULUAN.....................................................................      1
A.    Latar Belakang Masalah........................................................      1
B.     Rumusan Masalah..................................................................      1
C.     Tujuan Penulisan....................................................................      1
D.    Metode Pemecahan Masalah.................................................      2
E.     Sistematika Penulisan Makalah.............................................      2

BAB II    PEMBAHASAN........................................................................      3
A.    Pengertian model pengembangan kurikulum.........................      3
B.     Model pengembangan kurikulum..........................................      5
C.     Perbedaaan masing-masing model pengembangan kurikulum    14

BAB III   PENUTUP.................................................................................      17
A.    Kesimpulan............................................................................      17
D.    Saran-saran............................................................................      17
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................      18





BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Kurikulum dan pembelajaran merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Sebagai suatu rencana atau program, kurikulum tidak akan bermakna manakala tidak diimplementasikan dalam bentuk pembelajaran. Demikian juga sebaliknya, tanpa kurikulum yang jelas sebagai acuan, maka pembelajaran tidak akan berlangsung secara efektif. Sedangkan untuk mengembangkan kurikulum sendiri mempunyai bermacam – macam model.


Model–model pengembangan kurikulum memegang peranan penting dalam kegiatan pengembangan kurikulum. Sungguh sangat naif bagi para pelaku pendidikan di lapangan terutama guru, kepala sekolah, pengawas bahkan anggota komite sekolah jika tidak memahami dengan baik keberadaan, kegunaan dan urgensi setiap model–model pengembangan kurikulum.


B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut perlu kiranya merumuskan masalah sebagai pijakan untuk terfokusnya kajian makalah ini. Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut.
1.    Apa pengertian model pengembangan kurikulum?
2.    Apa saja model pengembangan kurikulum?
3.    Bagaimana perbedaan masing-masing model pengembangan kurikulum?

C.    Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini aadalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui pengertian model pengembangan kurikulum
2.      Untuk mengetahui model pengembangan kurikulum
3.      Untuk mengetahui bagaimana perbedaan masing-masing model pengembangan kurikulum

D.    Metode Pemecahan Masalah
Metode pemecahan masalah yang dilakukan melalui studi literatur/metode kajian pustaka, yaitu dengan menggunakan beberapa referensi buku atau dari referensi lainnya yang merujuk pada permasalahan yang dibahas. Langkah-langkah pemecahan masalahnya dimulai dengan menentukan masalah yang akan dibahas dengan melakukan perumusan masalah, melakukan langkah-langkah pengkajian masalah, penentuan tujuan dan sasaran, perumusan jawaban permasalahan dari berbagai sumber, dan penyintesisan serta pengorganisasian jawaban permasalahan.

E.     Sistematika Penulisan Makalah

Makalah ini ditulis dalam tiga bagian, meliputi: Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri dari: latar belakang masalah, perumusan masalah, metode pemecahan masalah, dan sistematika pnulisan makalah; Bab II, adalah pembahasan; Bab III, bagian penutup yang terdiri dari simpulan dan saran-saran.









BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Model Pengembangan Kurikulum
Kata kurikulum berasal dari bahasa Yunani yang semula digunakan dalam bidang olahraga, yaitu “currere  yang berarti jarak tempuh lari, yakni jarak yang harus ditempuh dalam kegiatan berlari mulai dari start hingga finish. Sedangkan pengertian kurikulum menurut Pendidikan Islam dalam kamus bahasa Arab, kata “Manhaj” (kurikulum) bermakna jalan yang terang yang dilalui manusia pada berbagai bidang kehidupan.
Pengembangan kurikulum adalah perencanaan kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membawa siswa kearah perubahan-perubahan yang diinginkan dan menilai hinga mana perubahan-perubahan itu telah terjadi pada siswa. Pada prinsipnya penembangan kurikulum berkisar pada pengembangan aspek ilmu pengetahuan dan teknologi yang perlu diimbangi dengan perkembangan pendidikan.[1]
Model atau konstruksi merupakan ulasan teoretis tentang suatu konsepsi dasar. Dalam pengembangan kurikulum, model dapat merupakan ulasan teoretis tentang suatu proses kurikulum secara menyeluruh atau dapat pula merupakan ulasan tentang salah satu bagian kurikulum. Disamping itu, ada model yang mempersoalkan keseluruhan proses dan ada pula yang hanya menitikberatkan pandangannya pada mekanisme penyusun kurikulumnya. Ulasan teoretis demikian dapat pula hanya mengutamakan uraiannya pada segi organisasi kurikulum dan ada pula yang menitikberatkan ulasannya hanya pada hubungan antar pribadi orang-orang yang terlibat dalam pengembangan kurikulum aplikasi model-model sebaiknya didasarkan pada faktor-faktor konstan, sehingga ulasan tentang model yang dibahas dapat ungkapkan secara konsisten. Dasar pemikiran ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menganalisis model kurikulum. [2]
Robert S. Zais dalam bukunya “Curriculum : Principles and Foundations” mengemukakan delapan model pengembangan kurikulum. Dasar teoritisnya adalah institusi atau orang yang menyelenggarakan pengembangan, pengambilan keputusan, penerapan ruang kegiatan yang termuat dalam kurikulum, realitas implementasinya, pendekatan permasalahan dengan cara pelaksanaannya, penelitian sistematis tentang masalahnya, dan pemanfaatan teknologi dalam pengembangan kurikulum.[3]
Menurut good(1972) dan travers(1973), model adalah abstraksi dunia nyata atau representasi peristiwa kompleks atau sistem dalam bentuk naratif, matematis, grafis, serta lambang-lambang lainnya. model bukanlah realitas, akan tetapi merupakan representasi realitas yang dikembangkan dari keadaan. Dengan demikian, model pada dasarnya berkaitan dengan rancangan yang dapat digunakan untuk menerjemahkan sesuatu ke dalam realitas yang sifatnya lebih praktis. model berfungsi sebagai sarana untuk mempermudah berkomunikasi atau sebagai petunjuk yang bersifat perspektif untuk mengambil keputusan atau sebagai petunjuk perencanaan untuk kegiatan pengelolaan. Nadler (1988) menjelaskan bahwa model yang dapat menolong si pengguna untuk mengerti dan memahami suatu proses secara mendasar dan menyeluruh.  Selanjutnya ia menjelaskan manfaat model adalah sebagai berikut :
a.       Model dapat menjelaskan beberapa aspek perilaku dan interaksi manusia
b.      Model dapat mengintegrasikan seluruh pengetahuan hasil observasi dan penelitian
c.       Model  dapat menyederhanakan suatu proses yang bersifat Kompleks
d.      Model dapat digunakan sebagai pedoman untuk melakukan kegiatan
Dalam kurikulum, seringkali digunakan model dengan menggunakan grafik untuk menggambar elemen-elemen kurikulum, hubungan antar elemen, serta proses pengembangan dan implementasi kurikulum. [4]
Pada prinsipnya, pengembangan kurikulum berkisar pada pengembangan aspek ilmu pengetahuan dan teknologi yang perlu diimbangi dengan perkembangan pendidikan. Manusia, disisi lain, seringkali memiliki keterbatasan dalam kemampuan menerima, menyampaikan, dan mengolah informasi, karenanya diperlukan proses pengembangan kurikulum yang akuratdan terseleksi serta memiliki tingkat relevansi yang kuat. Dengan demikian, dalam merealisasikannya, diperlukan suatu model pengembangan kurikulum dengan pendekatan yang sesuai. [5]
Uraian teoretis tentang konsepsi dasar tersebut dinamakan model atau konstruksi. Pengembangan kurikulum model tersebut merupakan ulasan teoretis tentang suatu proses kurikulum secara total atau parsial, yaitu salah satu komponen kurikulum saja. Ulasan teoretis tersebut menekankan pada ulasan yang berbeda-beda.ada yang menitikberatkan pada komponen organisasi kurikulum dan ada pula yang menekankan pada hubungan antara pribadi yang terlibat dalam pengembangan kurikulum.
Dalam pengembangan model kurikulum, sedapat mungkin didasarkan pada faktor-faktor yang konstan sehingga ulasan mengenai model-model yang dibahas dapat dilakukan secara konsisten.faktor-faktor konstan yang dimaksudkan adalah dalam pengembangan model Kurikulum perlu didasarkan pada tujuan, bahan pelajaran, proses belajar mengajar dan evaluasi yang tergambar dalam proses pengembangan tersebut.
B. Model Pengembangan Kurikulum
Dalam penggunaan kurikulum ada beberapa model yang dapat digunakan. setiap motif memiliki kekhasan tertentu baik dilihat dari keluasan pengetahuan kurikulum yaitu sendiri maupun dilihat dari tahapan pengembangannya sesuai dengan pendekatannya.

1.      Model Tyler
Teori ini lebih bersifat bagaimana merancang suatu kurikulum sesuai dengan tujuan dan misi suatu institusi pendidikan menurut Tyler ada 4 yang dianggap fundamental untuk mengembangkan kurikulum. Pertama, berhubungan dengan tujuan pendidikan yang dicapai. Kedua, berhubungan dengan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan. Ketika, pengorganisasian pengalaman belajar, dan keempat, berhubungan dengan evaluasi.
a.       Menentukan Tujuan
Merumuskan tujuan kurikulum, sebenarnya sangat tergantung dari teori dan filsafat pendidikan serta model kurikulum apa yang dianut. Bagi pengembangan kurikulum subjek akademis, maka penguasaan berbagai konsep dan teori seperti yang tergambar dalam disiplin ilmu merupakan sumber tujuan utama.
kurikulum yang kemudian dinamakan sebagai kurikulum yang bersifat “discipline oriented”.berbedadengan pengembangan kurikulum model humanistik yang lebih bersifat “child centered” yaitu kurikulum yang lebih berpusat pada pengembangan pribadi siswa, maka menjadi sumber utama dalam perumusan tujuan Tentu saja itu sendiri, baik yang berhubungan dengan pengembangan minat dan bakat serta kebutuhan untuk membekali hidupnya. lain lagi dengan kurikulum rekonstruksi sosial. kurikulum yang lebih bersifat “SocietyCentered” ini memosisikan kurikulum sekolah sebagai alat untuk memperbaiki kehidupan masyarakat, maka kebutuhan dan masalah-masalah sosial kemasyarakatan merupakan sumber tujuan utama kurikulum. [6]
b.      Menentukan pengalaman belajar pengalaman belajar menunjukkan kepada siswa dalam proses pembelajaran. Dengan demikian yang harus dipertanyakan dalam pengalaman ini adalah apa yang akan atau telah dikerjakan “siswa bukan apa yang akan” atau “telah diperbuat guru” untuk itu guru sebagai pengembang kurikulum mestinya memahami apa minat siswa,serta Bagaimana latar belakangnya. dengan pemahaman tersebut, akan memudahkan bagi guru dalam mendesain lingkungan yang dapat mengaktifkan siswa memperoleh pengalaman belajar.
Terdapat beberapa bentuk pengalaman belajar yang dapat dikembangkan commentshareand pengalaman belajar untuk dikembangkan, misalkan pengalaman belajar untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa,pengalaman belajar untuk membantu siswa dalam mengumpulkan sejumlah informasi, pengalaman belajar untuk membantu mengembangkan sikap sosial, dan pengalaman untuk membantu mengembangkan minat.
c.       Mengorganisasi pengalaman belajar
Ada dua jenis mengorganisasi pengalaman belajar.Pertama, pengorganisasian secara vertikal dan secara horizontal. pengorganisasian secara vertikal apabila menghubungkan pengalaman belajar dalam suatu kajian yang sama dalam tingkat yang berbeda. Misalkan, pengorganisasian pengalaman belajar yang menghubungkan antara bidang geografi kelas lima dan geografi kelas enam. Sedangkan pengorganisasian secara horizontal jika kita menghubungkan pengalaman belajar dan bidang geografi dan sejarah dalam tingkat yang sama. Kedua hubungan ini sangat penting dalam proses mengorganisasikan pengalaman belajar. Misalkan hubungan vertikal akan mungkin Siswa memiliki pengalaman belajar yang semakin luas dalam kajian yang sama sedangkan hubungan horizontal, antara pengalamanbelajar yang satu dan yang lain akan saling mengisi dan memberikan penguatan.[7]


d.      Evaluasi
Proses evaluasi merupakan langkah yang sangat penting untuk dapatkan informasi tentang pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. evaluasi memegang peranan yang cukuppenting, sebab dengan evaluasi dapat ditimbulkan apabila kurikulum yang digunakan sudah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah atau belum. Ada dua aspek yang perlu diperhatikan sehubungan dengan evaluasi. Pertama, evaluasi harus menilai Apakah telah terjadi perubahan tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah dirumuskan. Kedua, evaluasi sebaiknya menggunakan lebih dari satu alat penilaian dalam suatu waktu tertentu. Dengan demikian, penilaian suatu program tidak mungkin hanya dapat mengandalkan hasil tes siswa setelah akhir proses pembelajaran.
ada dua fungsi evaluasi :pertama, evaluasi digunakan untuk memperoleh data tentang ketercapaian tujuan oleh peserta didik. dengan kata lain, bagaimana tingkat pencapaian tujuan atau tingkat penguasaan isi kurikulum oleh setiap siswa. fungsi ini dinamakan sebagai fungsi sumatif. Kedua, melihat efektivitas proses pembelajaran. Dengan kata lain apakah program yang disusun telah dianggap sempurna atau Perlu diperbaikan. fungsi ini kemudian dinamakan fungsi formatif.
2. Model Taba
Berbeda dengan model yang dikembangkan Tyler, Model Taba lebih menitikberatkan kepada Bagaimana mengembangkan kurikulum sebagai suatu proses perbaikan dan penyempurnaan. Oleh karena itu, model ini dikembangkan tahapan-tahapan yang harus dilakukan oleh para pengembang kurikulum. [8]
Hilda Taba tidak sependapat dengan langkah tersebut. Alasannya, pengembangan kurikulum secara deduktif tidak dapat menciptakan pembaharuan kurikulum. Oleh karena itu, menurut Hilda Taba sebaiknya kurikulum dikembangkan secara terbalik yaitu dengan pendekatan induktif.
Ada lima langkah pengembangan kurikulum model terbalik dari tabel ini.
a.       Menghasilkan unit-unit percobaan (pilot unit) melalui langkah-langkah:
1.      Mendiagnosis kebutuhan
2.      Memformulasi tujuan
3.      Memilih isi
4.      Mengorganisasi isi
5.      Memilih pengalaman belajar
6.      Mengorganisasi pengalaman belajar
7.      Menentukan alat evaluasi serta prosedur yang harus dilakukan siswa.
8.      Menguji keseimbangan isi kurikulum.
b.         Menguji coba unit eksperimen untuk memperoleh data dalam rangka menemukan validitas dan kelayakan penggunaannya.
c.       Merevisi dan mengonsolidasikan unit-unit eksperimen berdasarkan data yang diperoleh dalam uji coba.
d.      Mengembangkan keseluruhan kerangka kurikulum.
e.       Implementasi dan diseminasi kurikulum yang telah teruji. [9]
3. Model Oliva
Menurut Oliva model yang dikembangkan ini adalah yang digunakan dalam beberapa dimensi. Pertama, untuk penyempurnaan kurikulum sekolah dalam bidang-bidang khusus, misalnya penyempurnaan kurikulum bidang studi tertentu di sekolah, baik dalam tataran perencanaan kurikulum maupun dalam proses pembelajarannya.Kedua, model ini juga dapat digunakan untuk membuat keputusan dalam merancang suatu program kurikulum. Ketiga, model ini dapat digunakan dalam mengembangkan  program pembelajaran secara khusus.
4. Model Beauchamp
Model ini dinamakan sistem Beauchamp, karena memang diciptakan dan dikembangkan oleh Beauchamp seorang ahli kurikulum. Beauchamp mengemukakan ada lima langkah dalam proses pengembangan kurikulum.
a.       Menetapkan wilayah atau area yang akan melakukan perubahan suatu kurikulum
b.      Menetapkan orang-orang yang akan terlibat dalam proses pengembangan kurikulum.
c.       Menetapkan prosedur yang akan ditempuh yaitu dalam hal merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus memiliki isi dan pengalaman belajar serta menetapkan evaluasi.
d.      Implementasi kurikulum.
Tahap ini perlu dipersiapkan secara matang berbagai hal yang dapat berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap efektivitas penggunaan kurikulum, seperti pemahaman guru tentang kurikulum itu, sarana atau fasilitas yang tersedia, manajemen sekolah, dan lain sebagainya.
e.       Melaksanakan evaluasi kurikulum yang menyangkut :
1.   Evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum oleh guru-gurudisekolah.
2.   Evaluasi terhadap desain kurikulum.
3.   Evaluasi keberhasilan anak didik.
4.   Evaluasi sistem kurikulum.[10]
5. Model Wheeler
Menurut Wheeler, pengembangan kurikulum merupakan suatu proses yang membentuk lingkaran. proses pengembangan kurikulum terjadi secara terus menerus. wheeler berpendapat proses pengembangan kurikulum terdiri dari lima fase(tahap).  setiap tahap merupakan pekerjaan yang berlangsung secara sistematis atau berurut. Artinya, kita tidak mungkin dapat menyelesaikan tahap kedua, manakala tahap pertama belum terselesaikan. Namun demikian manakala setiap rakaat sudah selesai dikerjakan kita akan kembali pada tahap awal.
Wheeler berpendapat, pengembangan kurikulum terdiri atas 5 tahap, yakni
a.         Menentukan tujuan umum dan tujuan khusus.
b.         Menentukan pengalaman belajar yang mungkin dapat dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuannya dirumuskan dalam langkah pertama.
c.         Menentukan Isi atau materi pembelajaran sesuai dengan pengalaman belajar.
d.        Mengorganisasikan pengalaman belajar dengan Isi atau materi belajar.
e.         Melakukan evaluasi setiap fase pengembangan dan pencapaian tujuan.
Dari langkah-langkah pengembangan kurikulum ditemukan bila rumah tanpa bahwa pengembangan kurikulum membentuk sebuah siklus (lingkaran) pada hakikatnya nya setiap tahapan Pada siklus membentuk sebuah sistem yang terdiri dari komponen-komponen pengembangan yang saling bergantung satu sama lain.
6. Model Nicholls
Dalam bukunya developing a Curriculum : A practical Guide menjelaskan bahwa pendekatan pengembangan kurikulum terdiri batas elemen-elemen kurikulum yang membentuk siklus.
Model pengembangan kurikulum Nicholls menggunakan pendekatan siklus seperti model Wheeler digunakan apabila ingin menyusun kurikulum baru yang diakibatkan oleh terjadinya perubahan situasi. Ada lima Langkah pengembangan kurikulum menurut Nicholls yaitu :
a.       Analisis situasi
b.      Menentukan tujuan khusus.[11]

c.       Menentukan dan mengorganisasi isi pelajaran.
d.      Menentukan dan mengorganisasi metode
e.       Evaluasi.
7. Model Dynamic skillbeck
Menurut skillbeck, Model pengembangan kurikulum yang dinamakan model dynamic adalah model pengembangan kurikulum pada level sekolah (School Nased Curriculum Development).
Skillbeck menjelaskan model ini diperuntukkan untuk setiap guru yang ingin mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan sekolah. agar proses pengembangan berjalan dengan baik, maka setiap pengembangan termasuk guru perlu memahami lima elemen pokok yang dimulai dari menganalisis situasi sampai pada melakukan penilaian. skilbeck menganjurkan model pengembangan kurikulum yang ia susun dapat dijadikan alternatif dalam pengembangan kurikulum tingkat Sekolah.
Menurut Skillbeck langkah-langkah pengembangan kurikulum adalah sebagai berikut :
a.       menganalisis situasi
b.      memformulasi tujuan
c.        menyusun program interpretasi dan implementasi
d.      Monitoring, feedback, penilaian, dan rekonstruksi.
8. The demonstration model
Model demonstrasi pada dasarnya bersifat grass roots. Model ini diprakarsai oleh sekelompok guru atau sekelompok guru bekerja sama dengan ahli yang bermaksud mengadakan perbaikan kurikulum. Model ini hanya mencakup suatu atau beberapa sekolah, suatu komponen kurikulum atau mencakup keseluruhan komponen kurikulum.[12]
Menurut Smith, Stanley, dan Shores ada dua variasi model demonstrasi ini. Pertama, sekelompok guru dari satu sekolah atau beberapa sekolah ditunjuk untuk melaksanakan  suatu percobaan tentang pengembangan kurikulum. Bentuk yang kedua, beberapa guru yang mersa kurang puas dengan kurikulum yang ada, mengadakan penelitian dan pengembangan sendiri.[13]
9. Roger’s interpersonal relations model
Menurut Rogers manusia berada dalam proses perubahan, sesungguhnya ia mempunyai kekuatan dan potensi untuk berkembang sendiri, tetapi karena ada hambatan-hambatan tetentu membutuhkan  bantuan orang lain. Ada empat langkah pengembangan kurikulum model Rogers. Pertama, pemilihan target dari sitem pendidikan. Kedua, partisipasi guru dalam pengalaman kelompok yang intensif. Ketiga, pengembangan pengalaman kelompok yang intensif untuk satu kelas atau unit pelajaran. Keempat, partisipasi orang tua dalam kegiatan kelompok.
Berdasarkan pandangan tentang manusia, maka Roger mengemukakan model pengembangan kurikulum yang disebut dengan model relassi interpersonal Roger. Model ini terdiri dari empat langkah pengembangan kurikulum, yaitu :
a.    Memilih suatu sistem pendidikan sasaran
b.   Pengalaman kelompoyang intensif bagi guru
c.    Pengembangan suatu pengalaman kelompok yang intensif bagi satu kelas atau unit pelajaran
d.   Melibatkan orang tua dalam pengalaman kelompok yang intensif.[14]
10. The systematic action-research model
Model kurikulum ini didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan kurikulum merupakan perubahan sosial. Penyusunan kurikulum harus memasukkan pandangan dan harapan-harapan masyarakat, dan salah satu cara untuk mencapai hal itu adalah dengan prosedur action reseach.
11. The administrative model
Model ini paling lama dan paling banyak di kenal. Diberi nama model administrasi atau line staff karena inisiatif dan gagasan pengembangan datang dari para administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi. Dari wewenang administrasinya, administrator pendidikan (apakah dirjen, direktur, atau kepala kantor wilayah pendidikan dan kebudayaan) membentuk suatu komisi atau tim pengarah pengembangan kurikulum. Anggota-anggota komisi atau tim ini terdiri atas, pejabat di bawahnya, para ahli pendidikan, ahli kurikulim, ahli disiplin ilmu, dan para tokoh dari dunia kerja dan perusahaan. [15]
Tugas tim atau komisi ini adalah merumuskan konsep-konsep dasar, landasan-landasan, kebijaksanaan dan strategi utama dalam pengembangan kurikulum. Setelah landasan-landasan itu dirumuskan dan mendapat pengkajian yang seksama, administrator pendidikan menyusun tim atau komisi kerja pengembangan kurikulum. Para anggota tim atau komisi ini terdiri atas para ahli pendidikan/kurikulum, ahli disiplin ilmu, guru-guru bidang studi yang senior.
Setelah semua tugas dari tim kerja pengembangan kurikulum tersebut selesai, hasilnya dikaji ulang oleh tim pengarah serta para ahli lain yang berwenang atau pejabat yang kompeten. Setelah mendapat beberapa penyempurnaan, dan dinilai cukup baik, administrator memberi tugasmenetapkan berlakunya kurikulum tersebut, serta memerintahkan sekolah-sekolah untuk melaksanakan kurikulum tersebut.[16]



12. The grass roots model
Model pengembangan ini merupakan awal dari model pertama. Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum, bukan dari atas tetapi dari bawah, yaitu guru-guru atau sekolah. Dalam model pengembangan yang bersifat grass roots seorang guru, sekelompok guru atau keseluruan guru di suatu sekolah mengadakan upaya pengembangan kurikulum. Pengembangan atau penyempuranaan ini dapat berkenaan dengan suatu komponan kurikulum, satu atau beberapa bidang studi ataupun seluruh bidang studi dan seluruh komponen kurikulum.
Pengembangan kurikulum yang bersifat desentralisasi dengan model grass rootsnya, memungkinkan terjadinya kompetensi di dalam meningkatkan mutu dan sistem pendidikan, yang pada gilirannya akan melahirkan manusia-manusia yang lebih mandiri dan kreatif.[17]

C. Perbedaan Masing-Masing Model Pengembangan Kurikulum
1.      Pada model administratif penekanan diberikan pada orang-orang yang terlibat dalam pengembangan kurikulum dengan uraian tugas dan fungsinya masing-masing, disamping pengarahan kegiatan yang bercirikan dari atas ke bawah. Model ini pada dasarnya mudah dilaksanaan pada negara penganut sistem sentralisasi dalam pengembangan kurikulum dan juga bagi negara yang kemampuan profesional guru-gurunya masih lemah. Kekurangannya terletak pada kurangnya dampak perubahan kurikulum.
2.      Model demonstrasi, keuntungannya terletak pada suatu segmen kurikulum yang sudah melalui testing sehingga terjamin akurasi dan validitasnya.
3.      Model Beauchamp ini lebih menonjol pada penegasan arena sehingga mudah dan jelaslah ruang lingkup kegiatan.
4.      Model Taba lebih mengintregasikan teori dengan praktik, tetapi sulit mengorganisasikannya karena memerlukan kemampuan teoretis dan profesional yang tinggi dari guru-guru atau administrator pelaksananya.
5.      Dalam Roger’s interpersonal relations model lebih mengutamakan hubungan antarpribadi denganMharapan dapat menghasilkan penerapan kurikulum yang lebih baik dan sukses. Model ini mendekatkan permasalahan dengan para pelaksananya sehingga memudahkan pemecahannya. Meskipun demikian, model ini sukar dilaksanakan karena mahal, waktunya relatif lama dan sukar diorganisasikan.[18]
6.       The systematic action-research model lebih mengutamakan penelitian sistematis oleh orang lapangan tentang masalah-masalah kurikulum. Hal demikian jelas mendekatkan permasalahan kurikulum dengan realitas penerapannya. Kesukaran dari model ini adalah penerapannya memerlukan staf profesional khusus yang terlatih dalam penelitian dan diperlukan biaya yang tinggi.[19]
7.      The Grass Roots Model,  Keuntungan dari model ini adalah proses pengambilan keputusan terletak pada pelaksana, mengikutsertakan pihak bawah khussnya para staff mengajar dan memungking terjadinya kompetensi di dalam meningkatkan mutu dan sistem. Kelemahan pengembangan kurikulum yg bersifat Grass Roots Model mungkin hanya berlaku untuk bidang studi tertentu atau sekolah tertentu tetapi mungkin pula dapat digunakan untuk bidang studi sejenis pada sekolah lain, atau keseluruhan bidang studi pada sekolah atau daerah lain. Pengembangan kurikulum yang bersifat desentralisasi dengan model grass rootsnya, memungkinkan terjadinya kompetisi di dalam meningkatkan mutu dan sistem pendidikan yang pada gilirannya akan melahirkan manusia-manusia yang lebih mandiri dan kreatif.
8.      Model Dynamic skillbeck
Skilbeck menjelaskan model ini diperuntukkan untuk setiap guru yang ingin mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan sekolah. Agar proses pengembangan berjalan dengan baik, maka setiap pengembangan termasuk guru perlu memahami lima elemen pokok yang dimulai dari menganalisis sesuatu sampai pada melakukan penilaian. Skilbeck menganjurkan model pengembangan kurikulum yang ia susun dapat dijadikan alternatif dalam pengembangan kurikulum tingkat sekolah[20]
9.      Model Nicholls
Model Nichools digunakan apabila ingin meyusun kurikulum baru yang diakibatkan oleh terjadinya perubahan situasi.
10.  Model Wheeler
Kontribusi Wheeler terhadap pengembangan kurikulum adalah terhadap hakikat lingkaran dari elemen-elemen kurikulum. Kurikulum proses disini tampak lebih sederhana dan gambar diatas memberikan indikasi bahwa langkah-langkah dalam lingkaran yang bersifat berkelanjutan memiliki makna responsif terhadap  perubahan-perubahan pendidikan yang ada.
11.  Model Tyler
Model pengembangan Tyler ini lebih bersifat bagaimana merancang  suatu kurikulum  sesuai dengan tujuan dan misi suatu institusi pendidikan. Ada 4 hal yang dianggap funfamental untuk mengembangkan kurikulum yaitu berhubungan dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai, berhubungan dengan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan, pengorganisasian pengalaman, berubungan dengan evaluasi.
12.  Model Olivia
Menurut Olivia suatu model kurikulum harus bersifat simpel,komprehensif dan sistematik. Olivia menggambarkan, model pengembangankurikulum seperti rumusan filsafat, rumusan tujuan umum, rumusan tujuankhusus, desain perencanaan, implementasi dan evaluasi merupakankomponen-komponen yang tampak saja, karena dalam kenyataannya mengembangkan suatu kurikulum ada 1 komponen yang saling berkaitan.[21]




























BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan

Berdasarkan uraian pada bagian pembahasan disimpulkan bahwa Model atau konstruksi merupakan ulasan teoretis tentang suatu konsepsi dasar. Dalam pengembangan kurikulum, model dapat merupakan ulasan teoretis tentang suatu proses kurikulum secara menyeluruh atau dapat pula merupakan ulasan tentang salah satu bagian kurikulum.
Dalam penggunaan kurikulum ada beberapa model yang dapat digunakan Model Dynamic skillbeck, Model Nicholls, Model Wheeler, Model Tyler, Model Oliva, The Grass Roots Model,  The systematic action-research, Roger’s interpersonal relations, Model Taba, Model Beauchamp, Model demonstrasi, Pada model administratif.

B.       Saran

Demikianlah makalah yang telah kelompok kami susun. Kami berharap makalah ini berguna sebagaimana mestinya dan dapat diterima dengan baik. Tapi, sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekurangan, kami juga mengharapkan kritik dan saran yang membangun sehingga kami sebagai pemakalah dapat memperbaiki kekurangan dan mempertahankan kelebihan yang ada pada makalah kami. Terima kasih.







DAFTAR PUSTAKA


            Arifin, Zainal. 2014.Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

           Damyati, M. 1998. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Idi, Abdullah. 2013. Pengembanagan Kurikulum : Teori dan Praktik Jogjakarta: Ar-Ruzz Media

Haryati, Nik. 2011.  Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam. Bandung: Alfabeta

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2001 Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
           
            Usmar, A. 2017. Model-model Pengembangan Kurikulum dalam Proses Kegiatan Belajar. An-Nadhah. Vol. 11 No.2. 2.






                [1]Ali usmar, “ Model-model Pengembangan Kurikulum dalam Proses Kegiatan Belajar”, An-Nadhah, Vol. 11 No. 2 Juli-Desember 2017, hal. 2
[2] Abdullah Idi, Pengembanagan Kurikulum : Teori dan Praktik( Jogjakarta:Ar-Ruzz Media, 2013), hlm. 176-177
[3]Ibid, hlm. 176-177
[4] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik, (Bandung:PT. Remaja Rosdakarya,2001)hlm.162

[5]Ibid, hlm.162

[6] Ibid, hlm. 162-163
[7] Ibid, hlm.163
[8]Ibid, hlm. 163
[9] Ibid,hlm.164.
[10]Ibid, hlm. 164-165
[11] Ibid, hlm. 165
[12] Ibid, hlm. 165-166
[13]Ibid, hlm. 166-167
[14]Mudjiono Damyati, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta:  PT. Rineka Cipta, 1998) hlm. 285
[15]Ibid, hlm. 168-169
[16]Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik, (Bandung:PT. Remaja Rosdakarya,2001)hlm.162-169
[17]Nik Haryati, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Alfabeta, 2011), hlm. 50
[18]Zainal Arifin, Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum,( Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2014) hlm.143-145
[19]Ibid, hlm.  145
[20]Ar Rifai, http://nurfitriwulansari.blogspot.com/2013/03/makalah-model-pengembanga-kurikulum.html?m=1
[21]Abdullah idi, Pengembangan Kurikulum:Teori dan Praktik ( Jogjakarta : Ar- Ruzz Media, 2013) hlm. 180

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © EnnLaw | Floating Leaves template designed by ennyLaw | eLaw's Design